AYOJAKARTA.COM - Langkah agresif kembali ditunjukkan Donald Trump dalam merespons lonjakan harga energi global.
Pemerintahannya kini bersiap memperluas penjualan bahan bakar bioetanol E15 sebagai strategi menekan inflasi energi, terutama di tengah konflik geopolitik yang melibatkan Iran.
Kebijakan ini akan dijalankan melalui Environmental Protection Agency (EPA), yang berencana memberikan pengecualian terhadap aturan volatilitas bahan bakar.
Dengan demikian, E15 dapat tetap dijual selama musim panas, periode yang biasanya dibatasi karena potensi peningkatan kabut asap akibat penguapan bensin.
E15 sendiri merupakan bahan bakar campuran yang mengandung 15% etanol berbasis jagung dan 85% bensin.
Dibandingkan E10, bahan bakar ini umumnya lebih murah per galon, meski memiliki kepadatan energi sedikit lebih rendah.
Namun dalam konteks krisis energi, harga yang lebih terjangkau menjadi faktor kunci.
Langkah ini bukan hal baru. Sebelumnya, kebijakan serupa juga diterapkan pada 2025 oleh Trump, bahkan sudah lebih dulu dilakukan oleh Joe Biden sejak 2022.
Saat itu, kebijakan tersebut dinilai efektif dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar di tengah tekanan global.
Kini, strategi tersebut kembali dihidupkan sebagai respons atas meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah.
Dengan membebaskan E15 dari pembatasan tekanan uap Reid selama periode musim panas, pemerintah AS berharap dapat meningkatkan pasokan bahan bakar domestik sekaligus menekan harga di tingkat konsumen.
Secara politik, kebijakan ini juga menguntungkan basis pendukung Trump, khususnya petani jagung dan produsen biofuel di wilayah Midwest.
Selama ini, mereka menjadi kelompok yang vokal mendorong penggunaan bioetanol secara lebih luas sepanjang tahun.
Namun, kebijakan ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah perusahaan penyulingan menilai bahwa pengecualian darurat tersebut belum memiliki dasar yang cukup kuat.
Selain itu, upaya untuk menjadikan kebijakan ini permanen melalui jalur legislasi juga kerap menemui jalan buntu.
Meski begitu, dalam situasi pasar energi yang tidak menentu, langkah ini dinilai sebagai solusi pragmatis.
Selain membantu menekan harga bahan bakar, penggunaan bioetanol juga berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Dengan konflik global yang masih berlangsung dan harga energi yang sulit diprediksi, kebijakan E15 menjadi bukti bahwa biofuel kini bukan sekadar alternatif, melainkan instrumen strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan energi.***

Share this article
Trump perluas penjualan bensin E15 di musim panas via EPA guna tekan harga energi akibat konflik Iran. Strategi ini dukung petani jagung dan pasokan domestik AS di tengah ketidakpastian pasar global.