AYOJAKARTA.COM - Upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil kini semakin gencar dilakukan berbagai negara di Asia Tenggara.
Setelah Indonesia menyiapkan mandatori campuran bioetanol, Vietnam juga mulai ancang-ancang menerapkan penggunaan Bioetanol E10 sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Program pencampuran bahan bakar nabati ini direncanakan mulai diterapkan secara bertahap pada 1 Juni 2026.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk menekan emisi karbon, mendiversifikasi sumber energi, serta mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.
Ketua Vietnam Biofuel Association, Do Van Tuan, menjelaskan bahwa program E10 dapat membantu mengurangi tekanan pada pasokan bensin dan solar yang selama ini masih bergantung pada impor.
Menurutnya, saat ini Vietnam masih harus mengimpor lebih dari 30 persen produk minyak bumi olahan.
Dua kilang utama di negara tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan energi domestik.
“Ketidakstabilan geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat berdampak langsung pada pasar minyak dunia. Karena itu program biofuel E10 menjadi salah satu solusi penting untuk memperkuat kemandirian energi,” ujar Do Van Tuan, dilansir dari vietnam.vn.
Tantangan Pasokan Bahan Baku
Meski memiliki potensi besar, pengembangan bioetanol di Vietnam juga menghadapi tantangan serius, terutama terkait stabilitas pasokan bahan baku.
Saat ini produksi etanol di negara tersebut sebagian besar bergantung pada singkong dan jagung.
Fluktuasi produksi akibat cuaca serta harga komoditas sering memengaruhi ketersediaan bahan baku untuk pabrik etanol.
Oleh karena itu, pemerintah Vietnam mendorong pembentukan ekosistem industri biofuel yang lebih kuat, termasuk memperkuat hubungan antara petani dan industri pengolahan.
Menurut Do Van Tuan, ketika pabrik etanol mampu menyerap hasil panen petani secara konsisten, maka petani akan lebih percaya diri untuk mempertahankan bahkan memperluas area tanam.
Dengan begitu, pasokan bahan baku dapat menjadi lebih stabil sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan.
Dampak bagi Industri Biofuel
Penerapan program E10 juga diharapkan mampu menghidupkan kembali sejumlah pabrik etanol yang sebelumnya sempat berhenti beroperasi.
Ketika permintaan bahan bakar nabati meningkat, investor diperkirakan akan kembali menanamkan modal untuk mengembangkan fasilitas produksi baru.
Di sisi lain, langkah Vietnam ini juga mencerminkan tren global yang semakin mengarah pada penggunaan biofuel sebagai energi terbarukan jangka panjang.
Indonesia sendiri tengah menyiapkan kebijakan serupa. Pemerintah berencana menerapkan campuran bioetanol dalam bensin secara bertahap, dimulai dari E5 hingga E10 dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, implementasi kebijakan tersebut juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait keseimbangan antara produksi domestik dan impor.
Ketua Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia, Izmirta Rachman, menegaskan bahwa industri lokal siap mendukung program E10.
Meski demikian, ia mengingatkan agar impor bioetanol tetap dikendalikan agar tidak menggerus produksi dalam negeri.
Dengan meningkatnya kebutuhan energi bersih di kawasan Asia Tenggara, program bioetanol seperti E10 diperkirakan akan memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan industri biofuel regional.***
Share this article
Vietnam akan terapkan bioetanol E10 mulai 1 Juni 2026 demi ketahanan energi dan kurangi impor. Meski terkendala bahan baku singkong, kebijakan ini bertujuan menekan emisi dan kemandirian energi.