AYOJAKARTA.COM - Langkah Vietnam dalam mempercepat penggunaan bahan bakar bioetanol E10 mulai menunjukkan dampak signifikan.
Di tengah ketidakpastian pasar energi global, negara ini memilih strategi proaktif, yakni mengamankan pasokan sekaligus memperluas distribusi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Perusahaan energi nasional Petrolimex menjadi pemain utama dalam implementasi ini.
Hingga kini, penjualan bensin E10 telah dilakukan di 60 titik SPBU yang tersebar di Ho Chi Minh City dan Quang Ngai.
Hasilnya cukup mencolok, konsumsi harian mencapai sekitar 95 meter kubik, meningkat hingga 40 persen dibandingkan masa uji coba awal.
Meski demikian, distribusi secara penuh masih menunggu arahan resmi dari pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam.
Namun, pelaku industri memastikan bahwa persiapan teknis sebenarnya telah dilakukan sejak jauh hari.
“Pasar relatif stabil, tidak ada fluktuasi signifikan dalam penjualan E10,” ujar perwakilan perusahaan, dilansir dari laman Vietnam.vn.
Tak hanya fokus pada distribusi, Petrolimex juga memperkuat infrastruktur. Saat ini terdapat tujuh depot pencampuran bahan bakar E10 yang siap beroperasi secara nasional.
Selain itu, lebih dari 2.800 gerai ritel telah melakukan penyesuaian teknis, mulai dari pembersihan tangki hingga kesiapan sistem penyimpanan untuk bahan bakar campuran etanol.
Langkah ini melanjutkan uji coba yang telah dimulai sejak Agustus 2025 oleh Petrolimex bersama PVOil.
Dalam beberapa bulan terakhir, tren konsumsi E10 terus meningkat, menandakan adanya pergeseran preferensi konsumen terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.
Dari sisi manfaat, pakar energi Ngo Tri Long menyebut E10 sebagai solusi “3-in-1”.
Selain mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, E10 juga mendorong ekonomi sirkular melalui pemanfaatan komoditas pertanian serta berkontribusi pada penurunan emisi karbon.
Jika diimplementasikan secara luas, E10 diperkirakan mampu menggantikan hingga 1 juta ton produk minyak bumi setiap tahun.
Angka ini menunjukkan potensi besar dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meredam dampak fluktuasi harga minyak dunia.
Lebih jauh, penggunaan bahan baku seperti tebu, jagung, dan singkong untuk produksi etanol membuka peluang baru bagi sektor pertanian.
Petani tidak hanya mendapatkan pasar yang lebih stabil, tetapi juga nilai tambah dari hasil panen mereka.
Keberhasilan Vietnam ini menjadi contoh konkret bahwa transisi energi bukan sekadar wacana.
Dengan strategi terintegrasi antara kebijakan, infrastruktur, dan dukungan industri, E10 kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan bagian dari masa depan energi yang berkelanjutan.***

Share this article
Vietnam mempercepat penggunaan bioetanol E10 lewat Petrolimex. Dengan 60 SPBU dan 7 depot, konsumsi naik 40%. Langkah ini dukung kemandirian energi, ekonomi sirkular, dan kurangi emisi karbon.