AYOJAKARTA.COM - Bobibos kini menjadi perbincangan hangat di dunia energi Indonesia.
Produk ini adalah bahan bakar nabati (BBN) berbahan dasar limbah jerami. Banyak orang mulai melirik inovasi ini karena berbagai keunggulan yang ditawarkan.
Dilansir dari akun Instagram resmi Bobibos, berikut adalah empat alasan mengapa Bobibos lebih unggul dibanding BBM fosil.
1. Harga yang Sangat Ekonomis
Harga adalah faktor utama bagi setiap konsumen. Bobibos hadir sebagai solusi bahan bakar yang sangat terjangkau.
Proyeksi harga jualnya hanya berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per liter.
Harga murah ini dimungkinkan karena bahan bakunya berasal dari limbah sisa panen yang melimpah.
Selain itu, penggunaan mesin biokimia khusus membuat biaya produksinya sangat efisien.
Hal ini tentu menjadi jawaban bagi masyarakat yang ingin hemat tanpa mengurangi mobilitas.
2. Kualitas Setara Bahan Bakar Premium
Meski harganya murah, kualitas Bobibos tidak bisa diremehkan. Hasil uji menunjukkan angka oktan atau RON produk ini mencapai 98,1.
Spesifikasi tersebut sejajar dengan produk Pertamax Turbo yang ada di pasaran.
Bobibos mampu memberikan performa tinggi bagi mesin kendaraan Anda. Saat ini, keamanan produk juga sedang diuji secara teknis oleh Lemigas dan Kementerian ESDM.
Pengujian ini mencakup karakteristik kimia hingga tingkat korosivitas terhadap mesin kendaraan.
3. Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Bobibos merupakan solusi energi hijau untuk masa depan Indonesia. Sebagai bahan bakar nabati, Bobibos memiliki tingkat emisi yang jauh lebih rendah.
Proses produksinya membantu mengurangi limbah pertanian yang biasanya hanya dibakar oleh petani.
Muhammad Ikhlas Thamrin, pendiri Bobibos, menegaskan keunggulan ini secara rinci:
4. Ketersediaan Bahan Baku Lokal yang Melimpah
Indonesia memiliki potensi jerami yang sangat besar di hampir seluruh wilayah.
Bobibos memanfaatkan kekayaan lokal ini untuk menciptakan jaringan energi nasional yang mandiri.
Rencananya, setiap kabupaten akan memiliki pabrik untuk memproduksi bioetanol dari jerami.
Setelah itu, bahan dikirim ke pabrik induk di provinsi untuk diproses menjadi bensin atau solar.
Strategi ini menjamin rantai pasok bahan bakar tetap terjaga. Bahkan kabupaten yang tidak punya cadangan minyak bumi kini bisa memproduksi bahan bakar sendiri.
Pembangunan ini juga diharapkan mampu menciptakan banyak lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.***