AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Indonesia bersiap meluncurkan mandatori bensin E5 mulai 1 Juli 2026 secara bertahap di Pulau Jawa.
Kebijakan ini mewajibkan pencampuran 5 persen bioetanol ke dalam bensin fosil untuk memacu bauran energi nasional.
Namun, kebijakan ramah lingkungan ini diproyeksikan akan membuat harga jual akhir bensin E5 melonjak hingga menyentuh Rp16.550 per liter.
Tingginya tarif bensin E5 ini dipengaruhi langsung oleh harga bioetanol murni di pasar domestik.
Berdasarkan formula Harga Indeks Pasar (HIP) Kementerian ESDM, harga bioetanol dipatok sebesar Rp8.063 per liter.
Angka ini diperparah oleh kondisi ekonomi makro, terutama pelemahan nilai tukar rupiah yang diasumsikan berada pada level Rp17.286 per dolar AS.
Dilema Larangan Impor dan Defisit Tebu
Faktor utama yang mengunci tingginya harga bioetanol adalah kewajiban penggunaan sumber daya lokal.
Melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025, pemerintah secara resmi melarang opsi impor bioetanol.
Aturan ini mewajibkan seluruh badan usaha menyerap pasokan dari industri domestik demi menjaga kemandirian energi.
Masalahnya, sektor hulu Indonesia saat ini sedang mengalami defisit tebu kronis.
Kebutuhan bioetanol untuk program E5 mencapai 1,14 juta kiloliter per tahun, sedangkan kapasitas produksi lokal saat ini baru menyentuh 60.000 kiloliter.
Ketergantungan pada pasokan lokal yang belum maksimal ini memicu beban biaya tambahan yang membuat harga bensin E5 melambung.
Ketersediaan bahan baku yang minim juga mengancam stabilitas fiskal negara, karena berpotensi menguras APBN untuk menutupi selisih harga.
Langkah Strategis PTPN I Mengatasi Sektor Hulu
Guna mengantisipasi benturan kepentingan antara ketahanan pangan (gula) dan energi (etanol), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I mulai memperkuat pengembangan komoditas tebu.
PTPN I kini gencar memperluas areal tanam di wilayah potensial, salah satunya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Langkah ini diambil karena pengolahan tebu tidak hanya menghasilkan gula, tetapi juga molase yang menjadi bahan baku utama bioetanol.
Peningkatan produktivitas ini diharapkan mampu menaikkan angka rendemen tebu secara signifikan.
Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, menjelaskan bahwa peningkatan produksi ini sangat penting agar pembagian alokasi untuk bahan baku pangan dan energi bisa diatur lebih optimal.
Langkah ekspansi tersebut diharapkan dapat menyokong target dasar swasembada yang dicanangkan pemerintah.***