AYOJAKARTA.COM - Volume sampah di TPAS Manggar yang mencapai 380–450 ton per hari membuat kapasitas TPA diproyeksikan penuh dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada inovasi pengurangan.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Solid Recovered Fuel (SRF) dari Institut Teknologi Kalimantan melakukan pendampingan teknis pengolahan limbah kayu menjadi pellet RDF dan SRF.
Program ini bahkan mendapat dukungan dari Pertamina PFsains kategori Implementation dan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan serta UPTD TPAS Manggar.
Limbah kayu yang sebelumnya menumpuk kini dicacah, dikeringkan, dan dipadatkan menjadi pellet Solid Recovered Fue dengan nilai kalor 3.500–4.000 kkal/kg.
Teknik ini dapat menghasilkan bahan bakar alternatif dengan beberapa keunggulan utama, yakni
- Nilai kalor lebih tinggi daripada kayu mentah yang dibuang
- Karakteristik bahan bakar yang lebih stabil dan mudah disimpan
- Memperluas potensi pemanfaatan energi di sektor industri
Produk ini dirancang untuk skema co-firing biomassa di PLTU Kaltim Teluk, yakni mencampur biomassa dengan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
Program ini bukan sekadar uji coba, melainkan transfer teknologi agar pengelolaan berkelanjutan.
Selain produksi, tim juga menyusun SOP dan melakukan uji kualitas pellet, mulai dari kadar air, densitas hingga nilai kalor.
Inovasi ini diklaim dapat membantu mengurangi timbunan kayu dan memperpanjang umur operasional TPA.
Baca Juga: BRI Group Harumkan Nama Bangsa, Raih Empat Penghargaan Bergengsi di Alpha Southeast Asia 2025
Dari sisi lingkungan, substitusi 5–10 persen biomassa di PLTU berkapasitas besar berpotensi menekan emisi karbon hingga puluhan ribu ton CO₂ per tahun.
Program ini diharapkan menjadi kontribusi tambahan terhadap penurunan emisi sektor energi di Kalimantan Timur.