AYOJAKARTA.COM - Kenaikan harga BBM mulai terjadi di sejumlah negara di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, gangguan pasokan, hingga kebijakan energi masing-masing negara.
Di tengah tren global tersebut, pernyataan unik datang dari BOBIBOS yang menyebut bahwa pihaknya tidak terpengaruh oleh gejolak harga minyak dunia.
Hal ini lantaran sumber energi yang mereka gunakan berasal dari bahan alternatif, yakni jerami.
Baca Juga: Ada Jejaring Hijau Biru di Taman Bendera Pusaka, Apa Fungsinya?
"Bobibos berasal dari nabati yaitu jerami, jadi tidak terpengaruh dengan minyak mentah dunia," tulis BOBIBO di akun Instagram @bobibos_.
BOBIBOS pun menyebut bahwa di Eropa, harga energi sudah melonjak tajam.
Sedangkan di Asia, tekanan fiskal membuat pemerintah harus menyesuaikan harga.
"Bahkan ada yang mendorong WFH dan penghematan energi nasional untuk menahan konsumsi," lanjut BOBIBOS.
Menurut BOBIBOS, sejumlah negara yang mulai menaikkan harga BBM berbasis fosil tersebut bukan karena pilihan, tapi karena terpaksa.
BOBIBOS pun berandai-andai jika pihaknya diberi kepercayaan untuk mengelola 10 juta hektare sawah.
Jika hal itu terjadi, maka produksi BOBIBOS yang berbahan dasar dari jerami ini bisa mencapai 689 ribu barel per hari.
"Kebutuhan BBM di Indonesia saat ini 1,6 juta barel per hari, produksi dalam negeri hanya 580 ribu barel," ungkapnya.
Baca Juga: Jadwal Pengumuman SNBP 2026 Hari Ini, Cek di LINK Berikut Pukul 15.00 WIB
Dengan ini, Indonesia masih melakukan impor lebih dari 1 juta barel setiap harinya.
"Dengan kontribusi BOBIBOS, impor itu bisa ditekan drastis hingga tersisa sekitar 330 ribu barel per hari," jelas BOBIBOS.
Jika sawah bisa panen jerami tiga kali dalam setahun, kata BOBIBOS, produksi energi akan melonjak lebih tinggi lagi.
Hasil produksi tersebut dinilai mampu menutup sekitar 1,2 juta barel per hari.***