AYOJAKARTA.COM - Inovasi energi berbasis lokal kembali mencuri perhatian dunia.
Kali ini, bahan bakar dari jerami bernama Bobibos tak hanya diminati di Timor Leste, tetapi juga mulai dilirik oleh Norwegia.
Di tengah ancaman krisis energi global akibat konflik di Iran, kehadiran Bobibos dinilai sebagai solusi alternatif yang menjanjikan.
Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, merupakan biofuel yang diolah dari limbah jerami.
Inovasi ini didukung oleh Mulyadi, yang dikenal sebagai anggota DPR RI dan akademisi.
Menurutnya, teknologi produksi Bobibos sudah siap diterapkan secara luas, hanya tinggal menunggu dukungan regulasi dari pemerintah.
Ketua Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia Universitas Djuanda, Uman Suherman, mengungkapkan bahwa ketertarikan negara lain terhadap Bobibos menjadi bukti kualitas inovasi anak bangsa.
Ia berharap pemerintah Indonesia segera merespons agar Bobibos bisa menjadi bahan bakar resmi nasional.
Secara teknis, Bobibos menawarkan sejumlah keunggulan. Bahan bakar ini diklaim memiliki angka oktan tinggi hingga RON 98 dan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan BBM konvensional.
Selain itu, bahan bakunya yang melimpah di sektor pertanian membuat rantai pasoknya relatif stabil dan tidak bergantung pada dinamika global.
Dalam simulasi yang dipaparkan pengembangnya, jika Bobibos diberi mandat mengelola 5 juta hektare sawah, produksi bisa mencapai 20 miliar liter per tahun.
Angka tersebut setara dengan ratusan ribu barel minyak per hari, yang berpotensi signifikan menekan ketergantungan impor energi Indonesia.
Sebagai perbandingan, konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik masih jauh di bawah angka tersebut.
Ketimpangan ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Menariknya, ketika regulasi dalam negeri belum sepenuhnya mendukung, Bobibos justru melangkah lebih cepat di luar negeri.
Produksi tahap awal telah direncanakan di Timor Leste, bahkan kini mulai dijajaki di Norwegia.
Hal ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis biomassa dari Indonesia memiliki daya saing global. Namun, tantangan utama masih terletak pada kebijakan nasional.
Hingga saat ini, jerami belum masuk dalam peta jalan bioenergi Indonesia yang masih berfokus pada komoditas seperti sawit dan tebu.
Tanpa payung hukum yang jelas, pengembangan Bobibos di dalam negeri sulit dilakukan secara masif.
Jika pemerintah mampu merespons momentum ini dengan regulasi yang tepat, Bobibos berpotensi menjadi game changer dalam ketahanan energi nasional.
Bukan hanya mengurangi impor, tetapi juga membuka peluang Indonesia menjadi pemain utama dalam energi terbarukan berbasis pertanian.***

Share this article
Biofuel jerami Bobibos (RON 98) mulai dilirik Norwegia & Timor Leste. Inovasi lokal ini mampu hasilkan 20 miliar liter/tahun, namun terkendala regulasi nasional yang belum fokus pada limbah pertanian.