AYOJAKARTA.COM - Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah kini mulai berdampak pada Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto pun memberikan tugas khusus kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mencari sumber pasokan energi alternatif demi menjaga stabilitas nasional.
Dalam pernyataannya, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah tengah bergerak cepat mencari pasokan minyak dari berbagai negara.
"Bapak Presiden memerintahkan kepada saya Dan Tim untuk segera mencari pasokan-pasokan minyak kita dari hampir semua negara," ujar Bahlil dikutip dari YouTube Kementerian ESDM pada Minggu, 29 Maret 2026.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan energi, termasuk menghemat konsumsi LPG di rumah tangga.
Namun, di tengah upaya tersebut, muncul tawaran menarik dari inovasi energi lokal bernama Bobibos.
Melalui surat terbuka di media sosial, pengembang Bobibos mengajukan diri sebagai solusi strategis untuk mengatasi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Bobibos merupakan bahan bakar berbasis limbah jerami yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
"Jerami yang selama ini dianggap limbah bisa diubah menjadi bahan bakar berkualitas tinggi. Bukan hanya mengurangi impor,
tapi membuka peluang. Indonesia bisa beralih dari importir menjadi eksportir energi," tulis Bobibos di media sosial Instagram.
Dengan teknologi pengolahan tertentu, jerami diklaim mampu menghasilkan bahan bakar beroktan tinggi hingga RON 98, sekaligus menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan BBM konvensional.
Dalam pernyataannya di media sosial Instagram, Bobibos memaparkan potensi besar jika diberi mandat mengelola lahan pertanian nasional.
Dengan pengelolaan sekitar 5 juta hektare sawah, produksi bahan bakar diproyeksikan mencapai 20 miliar liter per tahun.
Bahkan, jika diperluas hingga 10 juta hektare, kapasitas produksi harian bisa mendekati 700 ribu barel.
Angka ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan konsumsi BBM Indonesia yang mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik masih di kisaran 580 ribu barel.
Artinya, peluang untuk menekan impor energi terbuka lebar jika potensi ini dimaksimalkan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin mempertegas pentingnya kemandirian energi.
Sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, gangguan di kawasan tersebut dapat langsung memicu lonjakan harga minyak global.
Keunggulan Bobibos terletak pada sumber bahan bakunya yang sepenuhnya berasal dari dalam negeri.
Hal ini membuat rantai pasok lebih stabil dan tidak terpengaruh gejolak internasional. Meski demikian, tantangan terbesar masih terletak pada regulasi.
Hingga saat ini, jerami belum masuk dalam peta jalan energi nasional yang masih berfokus pada komoditas seperti sawit dan tebu.
Dukungan kebijakan, investasi, dan proteksi menjadi faktor krusial agar inovasi ini dapat berkembang.
Menariknya, saat Indonesia masih berkutat dengan regulasi, Bobibos justru mulai melirik ekspansi ke luar negeri, termasuk rencana produksi di Timor Leste.
Ini menjadi sinyal bahwa energi berbasis biomassa memiliki potensi besar di pasar global.
Jika pemerintah mampu merespons peluang ini dengan cepat, bukan tidak mungkin Indonesia dapat bertransformasi dari negara importir energi menjadi pemain utama dalam energi terbarukan berbasis sumber daya lokal.***
Share this article
Krisis energi global membuat Presiden Prabowo menugaskan Menteri ESDM mencari pasokan alternatif. Inovasi lokal Bobibos berbahan jerami menawarkan solusi BBM RON 98 guna menekan impor dan emisi.