AYOJAKARTA.COM -- Dalam sidang PK enam terpidana kasus Vina-Eky terungkap adanya sejumlah aksi kekerasan yang sempat dialami oleh para tersangka.
Selain mendapatkan penyiksaan saat mengorek keterangan, enam terpidana kasus Vina-Eky juga mengaku menerima kekerasan dari sesama tahanan.
Meski mendapat kekerasan hampir setiap hari dari sejumlah tahanan lain, enam terpidana kasus Vina-Eky bersikeras tidak pernah sekalipun mengakui perbuatannya.
Pengakuan adanya tindak kekerasan saat menjalani pemeriksaan dan ruang tahanan, sempat disampaikan oleh Hadi Saputra.
Di dalam ruang sidang, Hadi yang sudah berencana ingin menikah mengaku mendapat sejumlah perlakuan tindak kekerasan.
“Kita semua langsung dipukulin, diinjak-injak, banyak yang memukul menggunakan apapun yang ada di situ,” ungkap Hadi.
Bertubi-tubi menerima pukulan, Hadi juga mengaku sempat mengalami muntah darah saat mendapatkan pemukulan dari oknum petugas.
Tidak berhenti, Hadi juga mengaku sempat dipukul dengan menggunakan mistar besi serta gembok untuk memukul bagian kepala oleh oknum petugas.
“Tangan saya dipukulin pakai penggaris besi, saya paling ingat anggota yang bernama Anwar, dia ambil gembok dan pukul-pukul kepala saya,” jelas Hadi.
Dihujani dengan berbagai penyiksaan hingga diberi air kencing saat merasakan kehausan, para terpidana kasus Vina-Eky memilih untuk tetap tidak mengakui perbuatannya.
Keterangan terkait para terpidana yang tidak pernah mengakui perbuatannya, juga diperkuat oleh pengakuan mantan narapidana bernama Afifullah.
Berdasarkan penuturannya, Afif dan sejumlah tahanan lain mengaku gemas karena mengetahui kejahatan yang dilakukan terhadap para korban.
“Setiap malam mereka itu dipukulin saya tahu sendiri, mereka dijejerin dan dipukulin sebelum mereka dipindah ke Polda,” jelas Afif.
Mengaku sempat ikut memukuli bersama tahanan lain, Afif mengaku heran karena enam terpidana tidak bersedia mengubah pendiriannya.
Selain sempat ikut memukul, Afif juga menceritakan pengalamannya saat berbicara dengan terpidana Rivaldi.
Di hadapan Afif, Rivaldi mengaku merasa tidak kuat menghadapi berbagai tekanan yang terus dialaminya selama menjadi tahanan.
“Dia cerita ke saya sampai nangis-nangis, dia nggak sanggup nerima kaya gini, mungkin karena terlalu capek dipukulin,” jelas Afif.
Sebagaimana juga dengan para terpidana kasus Vina-Eky lainnya, Afif yang merasa simpati memastikan Rivaldi tidak pernah mengakui tindak kejahatannya.
Atas dasar kemanusiaan, lebih lanjut Afif mengaku siap untuk memberikan keterangan terkait adanya tindak pemukulan sesama tahanan tersebut di ruang sidang.
“Saya pribadi sedih, dipukulin tiap hari tapi jawabannya tetap sama, disumpah saya berani, karena memang posisinya saya berada di dalam situ,” jelasnya.***