AYOJAKARTA.COM - Belakangan ini tampaknya ada gelombang kritik melalui petisi yang disampaikan oleh sivitas akademika seperti guru besar dari berbagai perguruan tinggi kepada Presiden Joko Widodo.
Keresahan-keresahan yang disampaikan oleh para guru besar terkait dengan netralitas Jokowi yang menyebabkan demokrasi menurun.
Terkait adanya gelombang guru besar di berbagai perguruan tinggi Indonesia menjelang Pilpres 2024 membuat Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora, Fahri Hamzah heran.
Baca Juga: Terkuak Alasan Prabowo Pilih Gibran Rakabuming Jadi Cawapres, Fahri Hamzah Bongkar Semuanya
Fahri Hamzah yang juga sebagai juru bicara TKN Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menilai bahwa pihak kampus keliru dalam menyuarakan keresahannya.
“Kekeliruan teman-teman di kampus itu mohon maaf guru besar itu, dia tidak bersikap di masa damai. Yang seharusnya dia sikapnya itu diletakkan di masa damai,” ujarnya dalam Catatan Demokrasi tvOne yang dikutip Ayojakarta.com pada Kamis (8/2/2024).
Politisi Partai Gelora ini kemudian menceritakan bagaimana pengalamannya ketika menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 yang pada saat itu membidangi soal kesejahteraan rakyat atau kesra mengawasi sektor pendidikan.
Menurutnya saat itu ketika datang ke UGM ia mengalami penolakan dan tidak ada pembelaan dari guru besar.
“Saya ini Wakil Ketua DPR bidang kesra yang mengawasi sektor pendidikan. Saya datang ke kampus UGM, sudah sampai sana ditolak. Tidak ada satu guru besar yang membela saya,” kata Fahri Hamzah.
Hal yang sama menurutnya terjadi pada pengamat politik Rocky Gerung, yang mana figurnya sebagai intelektual namun dilarang masuk kampus pada masa damai.
Maka dari itu ia menilai jika munculnya para guru besar yang tiba-tiba masuk ke gelanggang ‘perang’ menjelang Pemilu 2024 maka banyak yang menduga ditunggangi untuk politisasi.
“Tapi tiba-tiba guru besar ini masuk ke dalam gelanggang perang. Sebentar lagi kita pencoblosan. Maka semua orang menduga ini akan mau ikut perang,” sambungnya.
Fahri Hamzah merasa jika kemunculan guru besar menyuarakan keresahan seperti ikut dalam momen perang menjelang Pemilu 2024.
Menurutnya sivitas akademika telat menyuarakan keresahan karena tugasnya di masa damai menyampaikan sejumlah kritik dan keresahan terhadap pemerintah, bukan di masa menjelang hari pencoblosan.
“Dia ikut dalam momen perang, orang lagi tembak-tembakan kenapa dia di situ. Nanti kena tembak dia nyesel,” tuturnya.
Baca Juga: Fahri Hamzah Sebut Konsep Perubahan Anies Baswedan dan Cak Imin Tak Jelas Karena Hal Ini
“Nggak boleh dia ini, orang-orang ini tugasnya di masa damai. Pada masa perang ini ada perangkatnya,” sambungnya.
Fahri Hamzah merasa khawatir jika orang-orang idealis seperti akademisi guru besar yang sudah masuk dalam gelanggang ‘perang’ politik maka harus siap dengan persepsi yang berbeda.
“Dan dia lihat perang ini berkecamuk, seolah-olah dunia akan berakhir. No ini baik-baik saja, ini normal-normal saja. Dia menganggap seolah-olah kalau dia tak didengar semua akan runtuh,” ungkapnya.
Baca Juga: Pembagian Bansos Jelang Pemilu Tuai Kritik, Fahri Hamzah Sebut Jadwal Sudah Ditentukan Sejak Lama
Lebih lanjut Fahri Hamzah mengatakan bahwa lebih baik guru besar kembali ke kampus, karena menurutnya guru besar di kampus harus membuat desain menjadi lebih baik agar pertarungan dalam Pemilu menjadi lebih beradab.
“Nah ini lah tugas besar guru besar. Kembalilah ke kampus, desainlah sebuah sistem yang baik supaya pertarungan ini beradab,” kata dia.***