News

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Minta Pemerintah untuk Lebih Perhatikan Efek Jangka Panjang dari Nyamuk Wolbachia

Oleh: Fitri Nurjanah Rabu 24 Jan 2024, 18:53 WIB
Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah

AYOJAKARTA.COM - Polemik nyamuk Wolbachia sampai saat ini masih menimbulkan adanya pro dan kontra di masyarakat.

Nyamuk Wolbachia merupakan bakteri umum dan terdapat secara alami pada spesies serangga, termasuk beberapa nyamuk, lalat buah, capung, dan kupu-kupu.

Wolbachia dinilai mampu untuk menghentikan adanya penyebaran virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti, dan dapat mengendalikan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Cara Kerja Wolbachia, Teknologi yang Diklaim Bisa Atasi Demam Berdarah dengan Lumpuhkan Virus Dengue

Pemerintah telah melakukan penyebaran nyamuk Wolbachia di lima kota utama di Indonesia yaitu Yogyakarta, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang.

Adanya polemik ini mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, ikut memberikan pendapatnya dan meminta pemerintah untuk memperhatikan efek dari nyamuk Wolbachia ini.

Siti Fadilah bercerita awal mula adanya program nyamuk Wolbachia ini dilakukan oleh orang Australia, yang kemudian diikuti oleh peneliti di Indonesia yang berasal dari Universitas Gadjah Mada.

Baca Juga: Benarkah Nyamuk Wolbachia Hasil Rekayasa Genetika dan Masyarakat Akan Jadi Kelinci Percobaan? Prof Uut Beberkan Fakta Ini

Menurut Siti Fadilah alasan peneliti tersebut tertarik dengan program ini karena Indonesia dikenal memiliki banyak kasus demam berdarah (DBD).

Kemudian peneliti mulai melakukan teknologi Wolbachia ini dengan melakukan perkawinan dari nyamuk jantan yang sudah diberikan bakteri Wolbachia dengan nyamuk betina.

“Proses ini sebenarnya merupakan proses yang dilakukan secara alami, tapi namanya tetap ini adalah rekayasa genetica,” kata Siti Fadilah, dikutip Ayojakarta.com dari TikTok @siti_fadilah_supari.

Baca Juga: Pro Kontra Nyamuk Wolbachia, Bagaimana Dampaknya Jika Sampai Menggigit Manusia? Begini Penjelasannya

Hasil dari nyamuk Wolbachia ini telah dilakukan uji coba pertama kali di Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada tahun 2022.

Dari hasil tersebut dapat menurunkan angka demam berdarah hingga 77 persen di lapangan, dan 86 persen di rumah sakit.

Kendati demikian, Siti Fadilah mengatakan meski dapat menurunkan kasus DBD. Namun, sejak ia menjabat sebagai menteri kesehatan Indonesia tidak pernah mengalami kasus DBD yang melonjak tinggi.

“Pada tahun-tahun ini demam berdarah tidak menjadi berita yang mengejutkan, demam berdarah toh sudah terkendali dengan program dari kemenkes,” ucapnya.

Menurut Siti Fadilah dengan menggunakan metode nyamuk Wolbachia untuk menangani DBD hanya akan mengganggu lingkungan dan merugikan masyarakat setempat.

Baca Juga: Jadi Kebijakan yang Penuh Muatan Kontroversi, Benarkah Penyebaran Nyamuk Wolbachia Bagian dari Konspirasi?

Siti Fadilah pun menambahkan cara lain yang dapat dilakukan untuk menghentikan DBD dapat dilakukan dengan cara menerapkan hidup sehat, dan menjaga lingkungan di masyarakat.

Maka dari itu, mantan menteri kesehatan ini meminta kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan efek jangka panjang dari penyebaran nyamuk Wolbachia.***

Reporter Fitri Nurjanah
Editor Desi Kris