AYOJAKARTA.COM -- Pro kontra penyebaran Nyamuk Wolbachia hingga rencana produksi puluhan juta telurnya memang hingga kini ramai menjadi perbincangan yang cukup kontroversial diberbagai kalangan.
Penyebaran nyamuk Wolbachia sendiri dilakukan pemerintah sebagai upaya penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggunakan teknologi Wolbachia guna melumpuhkan virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti yang dapat menyebabkan DBD jika menggigit manusia.
Lantas bagaimana jika nyamuk Wolbachia yang menggigit manusia? Apakah ada potensi bahaya yang mengancamnya?
Dikutip dari berbagai sumber, berikut informasi selengkapnya.
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa penyebaran nyamuk Wolbachia ini sudah dilakukan sejak tahun 2022 di wilayah Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.
Pada percobaan saat itu telah terbukti bahwa kasus demam berdarah di daerah tersebut berhasil turun hingga 77 persen hingga mampu mengurangi jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit hingga mencapai 86 persen.
Bahkan kabar terbaru saat ini, Kemenkes berniat memproduksi 40 juta telur nyamuk Wolbachia dan akan menyebar ke beberapa wilayah yang dijadikan pilot project.
Daerah tersebut adalah Jakarta Barat, Bandung, Bontang, Semarang dan wilayah Kupang.
Informasi tersebut tentu tak lantas diterima masyarakat begitu saja. Banyak penolakan dari masyarakat terkait penyebaran dan produksi telur nyamuk Wolbachia tersebut.
Bahkan hal ini menjadi polemik serta kontroversi di berbagai kalangan dan banyak pihak.
Tentunya salah satu yang menjadi kekhawatiran masyarakat terbesar adalah dampak baru yang akan ditimbulkan jika manusia tergigit nyamuk Wolbachia.
Pada penjelasan yang diberikan oleh para ahli, bahwa bakteri Wolbachia yang disuntikkan kepada nyamuk Aedes aegypti itu hanya bisa bertahan hidup pada serangga saja.
"Bakteri Wolbachia tidak mampu memasuki tubuh manusia, karena bakteri tersebut secara khusus hanya dapat bertahan di dalam sel tubuh serangga," kata Dr. Riris Andono Ahmad selalu peneliti nyamuk ber-Wolbachia di Universitas Gadjah Mada (UGM) seperti dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Rabu (24/1/2024).
Lebih jauh Riris menambahkan bahwa bakteri Wolbachia yang keluar dari tubuh serangga maka bakteri tersebut akan mati.
Lalu bagaimana rasanya jika menggigit manusia?
Apabila nyamuk Aedes aegypti yang telah ber-Wolbachia ini menggigit manusia, maka rasanya akan sama dengan seperti digigit nyamuk pada umumnya.
Kulit yang tergigit akan tetap terasa gatal, namun tidak akan menularkan DBD.
Efek samping yang dirasakan oleh manusia hanya berasal dari gigitan nyamuk itu sendiri bukan berasal dari bakteri Wolbachia.
Selain itu, memang ada efek bentol yang muncul setelah digigit sama seperti gigitan nyamuk lainnya.
Namun tidak semua orang mendapati efek tersebut, ada yang bentol dan ada juga yang tidak.
Terkait dengan potensi bahaya yang ditimbulkan, para peneliti mengklaim bahwa nyamuk Wolbachia ini tidak akan memberikan dampak berbahaya bagi manusia yang tergigit.
Meski demikian, hingga kini pro kontra dari penyebaran nyamuk Wolbachia ini masih terus disampaikan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.***

Share this article
Bagaimana jika nyamuk Wolbachia yang menggigit manusia? Apakah ada potensi bahaya yang mengancamnya?