AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi yang melanda wilayah Cianjur 21 November membuat para peneliti akhirnya menemukan sebuah sesar yang awalnya disangka sebagai Sesar Cimandiri.
Kabar yang beredar mengenai Sesar Cimandiri merupakan penyebab bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur diragukan beberapa pihak, salah satunya oleh peneliti dari BRIN.
Dikutip dari Akun Youtube KOMPASTV, seorang peneliti pusat geoteknologi BRIN Nuraini Rahma Hanifa menjelaskan melakukan observasi terhadap bencana gempa bumi Cimandiri dari pantauan udara.
Nuraini mengatakan bahwa hasil dari pengamatan terlihat bahwa gempa Cianjur ini letak patahannya bergeser dari Sesar Cimandiri.
Dari gempa yang terjadi, pertama gempa cianjur tersebut ternyata letaknya agak bergeser dari Sesar Cimandiri," ucap Nuraini.
Ia mengatakan bahwa dirinya dan team sedang menginvestigasi mengenai sumber gempa atau sesar Cianjur yang sampai saat ini belum diketahui.
Hal tersebut kemudian diaminkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Kamis (8/12/2022).
Pemicu gempa Cianjur 21 November yang menewaskan 321 orang itu adalah patahan atau Sesar Cugenang.
Dikutip Ayojakarta.com dari Suara.com dengan judul "Mengenal Sesar Cugenang, Pemicu Gempa Cianjur 21 November 2022" pada Senin (13/12/2022) Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam siaran persnya menjelaskan mengenai Sesar Cugenang.
Baca Juga: Relokasi 9 Desa di Kawasan Sesar Cugenang akan Dilakukan: BMKG Beri Solusi untuk Pemanfaatan Area
Ia menjelaskan bahwa Sesar Cugenang tersebut merupakan sesar aktif yang belum dipetakan oleh BMKG dan ditemukan di Kecamatan Cugenang.
Sesar ini melintasi sembilan desa dan delapan desa diantaranya berada di Kecamatan Cugenang oleh karena itu disebutnya sebagai Sesar Cugenang.
"Karena patahannya di wilayah Cugenang maka dinamakan Patahan Cugenang, patahan yang baru terbentuk atau ditemukan melintasi sembilan desa di dua Kecamatan dengan lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara," papar Dwikorita.
Baca Juga: Temukan Patahan Baru, BMKG Sarankan 9 Desa di Atas Sesar Cugenang Direlokasi dan Jadi Tempat Ini
Kedelapan desa itu adalah Desa Ciherang, Desa Ciputri, Desa Cibeureum, Desa Nyalindung, Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, Desa Cibulakan, Desa Benjot sedangkan Desa terakhir yaitu Desa Nagrak, berlokasi dalam wilayah Kecamatan Cianjur.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan bahwa identifikasi Sesar Cugenang berdasarkan pada analisis focal mechanism serta memerhatikan posisi episenter gempa utama dan gempa susulan.
"Diketahui bahwa patahan pembangkit gempa bumi Cianjur merupakan patahan baru," kata Daryono.
Baca Juga: 7 Sesar Aktif di Jawa Barat yang Wajib Diwaspadai Picu Gempa Bumi Besar, Terbaru Sesar Cugenang
Daryono menambahkan, berdasarkan analisis mekanisme pergerakan patahan dan episenter gempa utama serta susulan, patahan itu mengarah ke N 347 derajat timur dan kemiringan (dip) 82,8 derajat dengan mekanisme gerak geser menganan (dextral stike-slip).
BMKG kemudian menghibau untuk zona berbahaya yang membentang sepanjang 8,09 kilometer persegi di wilayah sesar ini dibebaskan dari bangunan, hal ini melihat sebanyak 1.800 rumah dibangun di atasnya.
"Zona bahaya merupakan zona yang rentan mengalami pergeseran atau deformasi, getaran dan kerusakan lahan, serta bangunan," kata Daryono.
Meski demikian BMKG menambahkan bahwa zona berbahaya tersebut masih bisa digunakan untuk wilayah bertani, kawasan konservasi, lahan resapan, hingga objek wisata dengan konsep ruang terbuka.
Pihak BMKG juga menghimbau pemerintah daerah Cianjur agar lebih waspada terhadap sesar aktif yang melewati wilayah Cianjur dengan menggunakan peta yang telah diberikan sebagai acuannya.***