AYOJAKARTA.COM-- Urgensi deteksi dini gangguan irama jantung menjadi penting, karena sekitar 50% kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya.
“Fibrilasi Atrium merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia, dengan dampak serius karena meningkatkan risiko Stroke hingga 5 kali lipat dan risiko kematian 2 kali lipat," kara Advisary Board PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS dikutip Senin, 16 Februari 2026.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi dikampanyekannya MENARI sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri.
Baca Juga: Jadwal Pertunjukkan Barongsai di Jakarta, Waktunya Rayakan Tahun Kuda Api dengan Meriah
Cara ini dilakukan melalui perabaan nadi, yang menurut beberapa penelitian, terbukti mampu meningkatkan deteksi fibrilasi atrium dan membuka peluang penanganan lebih dini guna menurunkan risiko Stroke.
"MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal berkisar 60–100 kali per menit, namun keteraturan irama juga perlu diperhatikan,” jelas Prof. Yoga.
Founder of MENARI, MURI Achievement Holder 2023 itu menambahkan, denyut nadi yang terasa tidak teratur, ada denyut yang hilang, iramanya bervariasi, terlalu cepat di atas 100 kali per menit atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan.
Terutama bila disertai keluhan seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan anggota gerak.
Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Secara ilmiah, Prof. Yoga menegaskan bahwa MENARI merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi denyut jantung tidak teratur, meskipun tidak dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis.
Jika nadi terasa tidak teratur, pemeriksaan lanjutan seperti rekaman EKG perlu dilakukan, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti usia lanjut atau penderita penyakit jantung.
Baca Juga: Bukan Sekadar Kurang Tidur, Ini Penyebab Sering Mengantuk di Siang Hari yang Jarang Disadari
Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, termasuk penggunaan pengencer darah pada kasus fibrilasi atrium, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna, menjadikan MENARI sebagai kebiasaan sederhana dengan dampak besar bagi pencegahan penyakit kardiovaskular.
“Kebiasaan memeriksa nadi secara berkala dapat membantu menemukan gangguan irama jantung (fibrilasi atrium) yang sebelumnya tidak disadari. Bila gangguan ini terdeteksi dan diobati dengan pengencer darah yang tepat, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna," jelasnya.
Walaupun penelitian besar yang secara langsung membuktikan bahwa kebiasaan meraba nadi sendiri menurunkan angka Stroke masih terbatas, tapi tetap saja jalur manfaatnya, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan Stroke, sudah sangat kuat secara ilmiah,” katanya.
Baca Juga: Pesan Menag di Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili: Doa untuk Kesejahteraan dan Ketenangan Bersama
Head of Pulse Day Task Force, sekaligus Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS), Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), Subsp. K.I.(K), FIHA, FAsCC mengatakan gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru
diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebenarnya deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI (MEraba NAdi sendiRI) secara rutin.
"Dengan pemeriksaan nadi yang dilakukan secara rutin, kelainan irama jantung dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganan medis dapat diberikan tepat waktu dan bahkan lebih cepat,” kata Dr. Dicky.
Baca Juga: Program MBG Jadi Senjata Utama Cetak Generasi Unggul Menuju 100 Tahun Kemerdekaan
Sekretaris Bidang 1 PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), dr. Ardian Rizal, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA mengungkapkan bahwa dalam 21 tahun terakhir, Indonesia tercatat menjadi salah satu wilayah yang memiliki kenaikan prevalensi fibrilasi atrium tertinggi di kawasan ASEAN.
Peningkatan ini berkaitan erat dengan bertambahnya angka harapan hidup serta perubahan gaya hidup yang mendorong meningkatnya penyakit metabolic, salah satu faktor risiko fibrilasi atrium. Selain itu, tantangan terbesar lainya adalah sifat penyakit ini yang sering kali asimtomatik atau tanpa gejala.
"Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis justru setelah pasien mengalami komplikasi serius seperti Stroke," katanya. Dalam konteks tersebut, lanjut dia, deteksi dini menjadi kunci untuk memutus rantai risiko Stroke dan dampak jangka panjang fibrilasi atrium.
Baca Juga: Program MBG Jadi Senjata Utama Cetak Generasi Unggul Menuju 100 Tahun Kemerdekaan
"Upaya skrining sejak dini, baik melalui metode manual MENARI maupun pemanfaatan teknologi wearable device, memungkinkan intervensi medis dilakukan lebih awal sebelum komplikasi muncul," jelasnya.
Dengan mengetahui gangguan irama jantung sejak fase awal, risiko kecacatan akibat Stroke dapat ditekan sekaligus menjaga kualitas hidup dan prognosis kesehatan pasien secara berkelanjutan.
“Perkembangan teknologi wearable device dinilai semakin memperkuat upaya deteksi dini tersebut. Perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pelacak kebugaran kini telah berevolusi menjadi alat skrining medis real-time, berkat integrasi sensor fotoplethismografi (PPG) dan elektrokardiogram (EKG) satu sadapan yang semakin sensitif," pungkasnya.