AYOJAKARTA.COM - Karbon dioksida atau CO2 yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang utama perubahan iklim justru mengungkap hasil penelitian baru yang berhubungan dengan bahan bakar.
Berdasarkan hasil penelitian terbaru dari dari Yale dan University of Missouri mengungkap fakta bahwa gas rumah kaca tersebut berpotensi diolah menjadi sumber bahan bakar alternatif.
Temuan ini menjadi terobosan penting dalam upaya mengurangi emisi karbon sekaligus menjawab kebutuhan energi berkelanjutan.
Dikutip dari SciTech Daily, para peneliti menyebutkan bahwa katalis atau zat pemicu yang terbuat dari mangan mengubah karbon dioksida menjadi asam format, senyawa kimia yang berpotensi menyimpan dan melepaskan hidrogen.
Baca Juga: Diduga Kelelahan, Viral Penumpang KRL Terjatuh Pingsan di Stasiun Matraman Jakarta Timur
“Pemanfaatan karbon dioksida adalah prioritas saat ini karena kami mencari bahan baku kimia terbarukan untuk menggantikan bahan baku yang berasal dari bahan bakar fosil,” ujar profesor dari Yale, Nilay Hazari.
Lebih lanjut, dalam hasil penelitian ini mangan dipilih karena keberadaanya yang melimpah di alam dan relatif murah dibandingkan logam mulia.
Sedangkan asam format adalah bentuk terprotonasi dari format yang diproduksi dalam jumlah besar dalam industri berupa pengawetan makanan, perawatan antibakteri, serta penyamakan kulit.
Senyawa ini juga berpotensi sebagai sumber hidrogen untuk teknologi sel bahan bakar masa depan.
Namun, Hazari mengatakan bahwa produksi asam format saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Sehingga berkontribusi terhadap emisi karbon dan tidak ramah lingkungan.
Oleh sebab itu, para peneliti berupaya untuk mengembangkan metode sintesis asam format dengan bahan baku terbarukan yakni karbon dioksida dan hidrogen.
Di mana keduanya dihasilkan dari elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber energi berkelanjutan.
"Inovasi kuncinya adalah menstabilkan katalis dengan menambahkan atom donor lain ke dalam desain ligan, atom atau molekul yang berikatan dengan atom logam dan memengaruhi reaktivitas," lanjut penelitian tersebut.
Peneliti juga menilai pendekatan ini tidak hanya terbatas pada konversi karbon dioksida menjadi format, tapi berpotensi untuk diterapkan secara luas pada berbagai proses transformasi katalitik lainnya.
Hal tersebut tentunya ke depan bisa menekan emisi karbon sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan.***