AYOJAKARTA.COM - Serangan siber terhadap Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi alarm serius untuk meningkatkan keamanan siber di dalam negeri.
Apalagi saat ini ada tren peningkatan serangan ransomware yang menyasar pada sistem perusahaan.
Mengapa Indonesia selalu kebobolan dengan serangan siber ini? Apa penyebabnya?
Baca Juga: Layanan BSI Mulai Terpantau Normal, tapi Belum Sepenuhnya! Ini Penyebabnya
Suasana di kantor regional BSI di Kota Banda Aceh, nasabah BSI yang hendak bertransaksi melalui mesin ATM merasa terganggu.
Hal ini dikarenakan hanya beberapa mesin ATM yang bisa digunakan dan transaksinya pun dibatasi.
Bahkan beberapa warga harus pulang dengan tangan kosong tanpa bisa membawa uang. Warga pun berharap agar segera diperbaiki agar nasabah tidak merasa dirugikan.
Dikutip AyoJakarta.com melalui YouTube METRO TV, Jumat (12/5/2023) jaringan BSI masih bermasalah sehingga berdampak pada layanan ATM maupun pada layanan mobile banking BSI.
Dampak jaringan BSI yang masih bermasalah sangat berdampak pada masyarakat Aceh khususnya.
Hal ini akibat diberlakukannya aturan Qanun Aceh nomor 11 tahun 2018 tentang lembaga keuangan syariah perbankan yang diperbolehkan beroperasi di Aceh hanya bank syariah.
Baca Juga: Dijamin Bebas Riba dan Sesuai Syariah, Inilah Keunggulan Layanan KUR BSI 2023
Sehingga masyarakat tidak punya pilihan banyak untuk bisa memilih jasa perbankan. Meskipun jaringan BSI sudah berlangsung membaik dan sudah mulai berfungsi kembali.
Namun berdasarkan pantauan belum sepenuhnya normal, walaupun memang di beberapa ATM juga termasuk mobile banking BSI mulai bisa diakses.
Sebelumnya jaringan BSI yang bermasalah bukan hanya di Aceh saja tetapi di seluruh jaringan yang terjadi sejak Senin 8 Mei 2023.
Baca Juga: Layanan BSI Error Berhari-hari, Nasabah Kesal hingga Lipat dan Nekat Buang ATM BSI
Pada saat itu BSI berdalih melakukan pemeliharaan sistem sehingga layanan perbankan tidak bisa diakses.
Terkait gangguan layanan ini, pihak BSI melakukan penelusuran dan ada dugaan serangan siber pada seluruh jaringan layanannya.
Melalui keterangan resminya, Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan regulator dan pemerintah terkait dengan permasalahan tersebut.
Baca Juga: Butuh Dana Berbasis Syariah? KUR BSI 2023 Berikan Modal Tanpa Dana Berlipat, Ini Syaratnya
Ia menyebut saat ini diperlukan bukti lebih lanjut melalui audit dan digital forensik untuk bisa normalisasi layanan BSI.
Selain itu dalam keterangan resmi BSI, Hery meminta maaf atas gangguan layanan perbankan di ATM maupun mobile banking kepada nasabah.
Menteri BUMN, Erick Thohir ikut buka suara terkait gangguan yang dialami oleh bank syariah terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Alhamdulillah! Hari Ini Nasabah BSI Sudah Bisa Transfer dan Tarik Tunai, Masih Sebagian?
“Apa yang dilakukan BSI kemarin memang dalam transisi perbaikan sistem daripada tentu IT-nya, tapi juga ada serangan,” ujarnya.
“Saya bukan ahlinya disebutin tri poin apalah itu. Sehingga mereka down hampir satu hari kalau tidak salah,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber, Pratama Persada menyebut bahwa masalah yang dialami oleh BSI karena ada masalah dari backup.
Baca Juga: Waduh! Jadi Bank Andalan Masyarakat Aceh, Bank BSI Error, Ini Dampaknya!
“Layanan perbankan memang harusnya tidak boleh down, ada service level agreement sistem perbankan,” ujarnya.
“Apalagi bank-bank yang sudah melakukan digitalisasi layanannya gitu minimal 90 persen 98 persen begitu harus selalu up gitu,” sambungnya.
“Ketika down dan downnya membutuhkan waktu berhari-hari tentu saja ini pasti ada masalah. Kalau menurut saya masalahnya terutama dalam masalah backup recovery dari backup,” tandasnya.***