Ekonomi

Strategi Investasi Tepat Saat Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok

Oleh: Katarina Erlita Jumat 05 Jun 2026, 23:19 WIB
Ilustrasi Rupiah. (Sumber: AYOJAKARTA.COM | Foto: Kavin Faza)

AYOJAKARTA.COM - Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan yang cukup berat.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah menembus level Rp 18.000.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terus bergerak turun.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, IHSG parkir di level 5.594 setelah anjlok 4,2% dalam sehari. Dalam kurun waktu sepekan, penurunan IHSG bahkan mencapai 8,73%.

Banyak faktor yang menyebabkan pasar keuangan domestik menjadi lesu. Investor global mulai meragukan kekuatan ekonomi Indonesia dan melakukan aksi jual.

Saat ini, kinerja IHSG tercatat sebagai yang terburuk nomor satu di dunia.

Hal ini sangat kontras dengan bursa Korea Selatan yang justru berkinerja sangat baik.

Masalah domestik seperti kenaikan pajak badan usaha menjadi 22% turut memberikan sentimen negatif.

Selain itu, adanya gelombang PHK massal dan penurunan daya beli masyarakat memperparah keadaan.

Menghadapi situasi ini, investor dituntut untuk lebih cermat dalam menyusun strategi.

Bagi Anda dengan profil risiko konservatif, fokus utama adalah menjaga keamanan modal.

Anda bisa menempatkan 40% portofolio pada reksa dana pasar uang. Alokasikan juga 30% pada obligasi negara tenor pendek dan 15% pada emas sebagai lindung nilai.

Sektor saham defensif seperti konsumsi dan utilitas dapat menjadi pilihan untuk sisa dana Anda.

Untuk investor moderat, keseimbangan adalah kunci utama. Anda bisa mengalokasikan sekitar 55% pada reksa dana pendapatan tetap dan 45% pada saham.

Namun, pastikan akumulasi saham dilakukan secara perlahan karena sentimen pasar belum pulih sepenuhnya.

Menjaga cadangan kas sebesar 10% juga sangat disarankan untuk menjaga likuiditas.

Bagi investor agresif, koreksi pasar yang dalam justru menjadi peluang menarik.

Valuasi saham saat ini sudah jauh lebih murah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Anda dapat menempatkan 60% portofolio pada saham. Tetap siapkan cadangan likuiditas sekitar 10% sebagai "amunisi" tambahan.

Amunisi ini penting digunakan jika pasar kembali mengalami koreksi di masa depan.

Satu prinsip penting untuk semua investor adalah masuk ke pasar secara bertahap.

Jangan menginvestasikan seluruh dana sekaligus dalam satu waktu. Perhatikan juga indikator penting seperti arah aliran dana asing dan kebijakan fiskal pemerintah.

Stabilitas rupiah dalam jangka panjang sangat bergantung pada kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi negara. Tetaplah waspada terhadap volatilitas pasar yang masih tinggi.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita