AYOJAKARTA.COM - Kondisi ekonomi Indonesia tengah menghadapi tantangan berat seiring dengan nilai tukar Rupiah yang melemah tajam hingga menyentuh level Rp17.800 – Rp17.900 per dollar AS pada akhir Mei 2026.
Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global, terutama meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah mengganggu rantai pasok energi dunia.
Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan terhadap pangkalan militer dan jalur pelayaran strategis, telah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hingga ke level US$ 100 per barel.
Bagi Indonesia, kombinasi antara melemahnya Rupiah dan tingginya harga minyak dunia merupakan "double blow" bagi stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.
Mengapa Menkeu Tidak Mengubah Asumsi APBN?
Meskipun tekanan eksternal begitu kuat, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa sejauh ini belum berencana mengubah asumsi makro dalam APBN 2026.
Hal ini dikarenakan pemerintah mengeklaim bahwa berbagai risiko ekonomi, termasuk lonjakan harga minyak dan depresiasi mata uang, sudah dikalkulasi dalam skenario stres-test anggaran sebelumnya.
Pemerintah memilih untuk tetap pada jalur yang ada sambil terus memantau efektivitas belanja negara guna menjaga fundamental ekonomi tetap aman.
Dampaknya terhadap Subsidi BBM
Beban berat kini beralih pada sektor subsidi energi. Hingga 28 Mei 2026, pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Namun, selisih antara harga asli dan harga subsidi yang semakin lebar akibat kenaikan minyak dunia tentu akan memperbesar angka kompensasi energi yang harus dibayar negara.
Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi sudah berada di level yang cukup tinggi.
Sebagai contoh, di wilayah Jawa dan Bali, harga Dexlite bertahan di Rp26.000 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp27.900 per liter.
Nasib Harga Sembako dan Barang Impor
Pelemahan Rupiah juga mulai merambat ke harga barang kebutuhan pokok (sembako).
Berdasarkan data terbaru, harga Gas LPG tercatat mengalami kenaikan menjadi rata-rata Rp20.223.
Depresiasi mata uang lokal secara langsung membuat biaya impor bahan baku pangan meningkat.
Barang impor yang dikonsumsi masyarakat, seperti gandum, kedelai, hingga komponen elektronik, diprediksi akan mengalami penyesuaian harga dalam waktu dekat.
Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi harga ini dan mulai mengatur skala prioritas belanja harian agar stabilitas keuangan rumah tangga tetap terjaga di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.***
Share this article
Rupiah anjlok ke Rp17.900 & minyak US$100 imbas konflik AS-Iran. Meski APBN 2026 tak diubah Menkeu, subsidi energi membengkak. Harga sembako & barang impor pun mulai naik, masyarakat diminta waspada.