AYOJAKARTA.COM - Lonjakan harga RAM yang kini dirasakan konsumen bukanlah fenomena biasa. DRAMeXchange baru saja merilis laporan mengejutkan yang mengungkap dampak serius kenaikan harga memori terhadap pasar perangkat global.
Ironisnya, smartphone yang menjadi penyumbang penjualan terbesar diprediksi akan terpukul lebih keras daripada laptop dan desktop.
RAM 4 GB diperkirakan tetap menjadi standar ponsel murah, sama seperti satu dekade lalu, menciptakan stagnasi inovasi yang sulit dihindari.
Krisis ini bermuara pada satu fakta sederhana yaitu memori semakin langka, dan prioritas industri berubah. Kenaikan permintaan untuk beban kerja AI berskala besar membuat produsen memori mengalihkan fokus mereka ke produk dengan margin tinggi, terutama High Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 untuk server.
Setiap wafer DRAM yang dialokasikan ke HBM berarti berkurangnya pasokan DDR4, DDR5, LPDDR, serta GDDR untuk konsumen. Dengan tiga perusahaan raksasa yakni Samsung, SK Hynix, dan Micron menguasai lebih dari 90% pasar global, keputusan satu perusahaan saja dapat mengguncang industri.
Situasi memuncak ketika Micron mengumumkan penghentian lini produk konsumen Crucial, salah satu merek RAM yang selama ini menjaga harga tetap stabil.
Keputusan ini, menurut Micron, dilakukan untuk "memprioritaskan kebutuhan pelanggan strategis di sektor AI." Dampaknya langsung terasa yakni harga komponen memori melonjak, pasokan menipis, dan konsumen berada di ujung paling tidak diuntungkan dari rantai pasok.
Baca Juga: Harga HP Bakal Naik Gila-Gilaan di 2026? Ini Penyebab Sebenarnya Menurut David GadgetIn
Pasar PC kini berada dalam tekanan berat. Vendor besar seperti Dell dan Lenovo telah memberi sinyal kenaikan harga perangkat setidaknya pada 2026.
Bahkan kartu grafis diperkirakan ikut naik karena GDDR yang diproduksi di jalur yang sama mengalami tekanan suplai. Demikian pula LPDDR untuk ponsel dan NAND untuk SSD kini menunjukkan tren naik setelah masa panjang harga turun.
Lalu, adakah jalan keluar? Solusi jangka pendek tampak terbatas. Beberapa pusat data mulai memanfaatkan teknologi CXL untuk memperluas memori menggunakan modul DDR4 lama.
Namun ini tidak serta merta menolong konsumen. Sementara itu, pembangunan pabrik DRAM baru membutuhkan waktu bertahun-tahun. Micron bahkan memproyeksikan fasilitas barunya di Jepang baru akan berproduksi pada 2028.
Baca Juga: Mengapa Samsung Galaxy S26 Ultra Bisa Jadi HP Paling Berpengaruh di 2026? Ini Alasannya!
Dengan permintaan AI yang terus meningkat dan produsen memori mengejar margin tertinggi, harga RAM konsumen tampaknya akan tetap tinggi dalam waktu lama.
Situasinya jelas, kita sedang berada dalam fase kelangkaan memori global, dan sampai prioritas industri bergeser, perangkat yang terjangkau bisa kembali menjadi kemewahan.***