AYOJAKARTA.COM - Penutupan Selat Hormuz oleh angkatan laut Garda Revolusi Iran memicu kekhawatiran serius di pasar energi global.
Jalur laut strategis yang menjadi pintu keluar-masuk minyak dari kawasan Teluk itu kini dinyatakan tertutup bagi pelayaran internasional, menyusul eskalasi konflik pasca-tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pengamat ekonomi Bennix menilai langkah tersebut bukan gertakan semata. “Ini bukan sekadar ancaman. Begitu diumumkan, langsung ada kapal yang diserang. Artinya pasar harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak dunia,” ujar Bennix di chanel YouTube-nya.
20% Pasokan Minyak Dunia Terancam
Secara geopolitik, Selat Hormuz merupakan choke point energi paling vital di dunia.
Sekitar 20 juta barel minyak per hari, setara 20% perdagangan minyak global melintas di jalur ini. Menurut Bennix, dampaknya akan sangat terasa di Asia.
“Dari total 20 juta barel itu, sekitar 84% tujuannya ke Asia. Jadi yang paling megap-megap bukan Eropa, tapi negara-negara Asia, termasuk Indonesia,” tegasnya.
Dengan asumsi harga minyak di kisaran US$80 per barel, nilai transaksi harian yang terdampak bisa mencapai US$1,6 miliar atau sekitar Rp27 triliun per hari.
Jika harga melonjak ke US$100 per barel seperti proyeksi sejumlah lembaga investasi global, tekanan fiskal negara-negara pengimpor energi akan semakin berat.
Ancaman Defisit APBN Tembus Rp730 Triliun
Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap gejolak ini. Ketergantungan impor BBM masih tinggi, terutama dari Singapura dan Malaysia yang pada akhirnya juga bergantung pada pasokan Timur Tengah.
Bennix mengingatkan, kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada subsidi energi dan biaya impor.
“Kalau harga minyak naik ke US$84 per barel saja, defisit APBN bisa melebar hingga sekitar Rp40 triliun. Artinya defisit yang sekarang di kisaran Rp689 triliun bisa tembus Rp730 triliun,” jelasnya.
Dalam skenario ekstrem, jika harga mencapai US$100 per barel, pembengkakan defisit berpotensi menembus Rp810 triliun per tahun.
Selain itu, inflasi diproyeksikan naik lebih dari 2%, dipicu lonjakan biaya logistik dan distribusi di negara maritim seperti Indonesia.
Efek Domino ke Logistik dan Inflasi
Penutupan Selat Hormuz juga memicu gangguan pelayaran global. Jika kapal-kapal tanker dan kontainer harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika, biaya pengiriman akan melonjak tajam seperti yang pernah terjadi saat Terusan Suez terganggu.
“Krisis energi ini bukan cuma soal harga bensin. Ini soal biaya logistik, ekspor-impor, sampai harga pangan,” kata Bennix.
Dengan eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, pasar kini menanti respons negara-negara besar Asia.
Satu hal yang pasti, gejolak di Selat Hormuz bukan sekadar isu Timur Tengah, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas fiskal dan ekonomi Indonesia.***