AYOJAKARTA.COM - Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah tujuh negara, yakni Amerika Serikat, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras serangan rudal dan drone Iran ke wilayah mereka.
Meski dikecam, Teheran menegaskan tidak menginginkan perang, namun menolak menyerahkan kedaulatannya.
Dikutip dari Al Jazeera, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, menyatakan pemerintahnya tidak mencari eskalasi.
“Iran tidak menginginkan perang, Iran tidak menginginkan eskalasi. Tetapi Iran tidak akan menyerahkan kedaulatannya.,” tegasnya dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, New York.
Konflik dipicu oleh serangan militer gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menargetkan kompleks kediaman pemimpin tertinggi Iran di Teheran dan menewaskan Ali Khamenei.
Puluhan bom dijatuhkan, memicu serangan balasan Iran ke sejumlah titik yang berkaitan dengan kepentingan militer AS di kawasan.
Iran menegaskan bahwa targetnya bukan negara-negara Teluk, melainkan fasilitas militer Amerika.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut negaranya tidak sedang berperang dengan negara tetangga.
“Iran tidak menyerang negara tetangga. Kami menyerang pangkalan militer AS,” ujarnya kepada media pemerintah Iran.
Ia juga menuduh Washington “mengkhianati diplomasi” karena tetap melanjutkan serangan meski negosiasi masih berlangsung.
Serangan balasan Iran berdampak ke beberapa negara. Di Bahrain, pusat layanan Armada Kelima Angkatan Laut AS menjadi sasaran rudal.
Di Qatar, pangkalan militer Al Udeid dilaporkan mengalami kerusakan sistem radar setelah dihantam puluhan rudal dan drone.
Kuwait, Irak, hingga Yordania juga terdampak, termasuk pencegatan rudal di wilayah udara Amman.
Sementara itu, analis pertahanan AS sekaligus Ketua Killowen Group, Harlan Ullman, menilai pemerintahan Presiden Donald Trump belum memiliki strategi jangka panjang yang jelas.
Menurutnya, melumpuhkan kemampuan militer Iran mungkin merupakan taktik, tetapi belum tentu menjadi strategi efektif untuk mencapai tujuan politik, termasuk wacana pergantian rezim.
Eskalasi ini memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas. Komunitas internasional kini memantau dengan waspada, mengingat dampak perang Timur Tengah berpotensi mengguncang stabilitas politik dan ekonomi global.***

Share this article
Ketegangan Iran-AS memuncak pasca serangan ke Teheran yang tewaskan Ali Khamenei. Iran balas serang basis militer AS di Teluk, namun tegaskan tak cari perang dan hanya lindungi kedaulatan negara.