AYOJAKARTA.COM - Perang di Timur Tengah telah memicu spekulasi global, terutama setelah serangan militer Amerika Serikat bersama Israel ke Iran hanya dua hari setelah negosiasi damai di Jenewa disebut berjalan progresif.
Pengamat ekonomi Bennix menilai ada kepentingan besar di balik eskalasi ini.
Menurut Bennix, serangan terjadi di tengah sinyal positif perundingan yang melibatkan utusan Washington dan Teheran.
“Dua hari setelah meeting yang dibilang progresnya signifikan, tiba-tiba bom jatuh di Iran. Ini aneh dan patut dipertanyakan,” ujar Bennix di chanel YouTube-nya.
Ia menyoroti bahwa target serangan bukan fasilitas nuklir, melainkan pusat pemerintahan dan pejabat penting.
“Kalau tujuannya menghentikan program nuklir, harusnya yang dibom instalasi nuklir. Tapi yang dihantam justru kantor pemerintahan dan tokoh kunci. Artinya ini soal pergantian rezim, bukan soal nuklir,” tegas Bennix.
Bennix juga mempertanyakan narasi ancaman nuklir Iran. Ia merujuk pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Iran tidak sedang memperkaya uranium.
Bahkan, pengawasan dari International Atomic Energy Agency (IAEA) dinilai tidak menemukan bukti konkret pengembangan senjata nuklir aktif.
Di sisi lain, ia menilai ada pihak yang diuntungkan secara finansial dari konflik.
Bennix menunjuk lonjakan saham perusahaan pertahanan AS seperti Northrop Grumman, Lockheed Martin, dan RTX Corporation.
“Ketika Teheran terbakar, saham pabrik senjata justru naik puluhan persen. Ini bisnis perang yang nyata,” katanya.
Ia juga menyinggung potensi kenaikan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz.
“Setiap hari perang berlanjut, harga minyak bisa naik 7 sampai 10 dolar. Negara pengimpor seperti Indonesia jelas terdampak lewat subsidi dan inflasi,” ujarnya.
Bennix berpendapat konflik ini bukan sekadar isu keamanan nasional. “Ini bukan soal melindungi rakyat Amerika. Ini soal siapa yang mengendalikan arus uang dan industri pertahanan,” katanya.
Ia menilai sistem politik global memungkinkan kepentingan korporasi besar memengaruhi arah kebijakan luar negeri.
Dampaknya, menurut Bennix, bisa menjalar ke negara berkembang. Kenaikan harga energi, pelemahan mata uang, hingga tekanan fiskal berpotensi memperburuk kondisi ekonomi domestik.
Perang Iran bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal ekonomi global. Pertanyaannya, apakah konflik ini benar-benar demi stabilitas dunia, atau justru menjadi panggung bagi pihak-pihak yang meraup keuntungan di tengah krisis?***
Share this article
Bennix menilai serangan AS-Israel ke Iran adalah upaya pergantian rezim demi bisnis senjata dan kontrol minyak, bukan soal nuklir. Konflik ini memicu inflasi global yang merugikan negara berkembang.