AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempercepat pembangunan Flyover Latumenten di Jakarta Barat.
Proyek strategis ini bertujuan utama untuk menghilangkan perlintasan sebidang kereta api yang selama ini menjadi titik rawan kecelakaan.
Namun, di balik visi besar tersebut, warga Grogol kini harus menghadapi tantangan kemacetan yang luar biasa.
Target Tuntas Tahun 2026
Plt Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengonfirmasi bahwa progres pembangunan telah mencapai 35 persen per 26 April 2026.
Berbeda dengan proyek serupa di Bintaro yang masih terkendala sosialisasi warga, Flyover Latumenten ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
Dinas Bina Marga DKI Jakarta optimis proyek sepanjang 380 meter ini akan menjadi solusi jangka panjang.
Infrastruktur ini mengadopsi konsep "Tapal Kuda" seperti di Lenteng Agung, yang secara total memisahkan arus kendaraan dengan jalur rel kereta api.
Keluhan Warga dan Penurunan Kapasitas Jalan
Meski tujuannya baik, proses konstruksi memicu kemacetan parah di kawasan Grogol.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth (Bang Kent), menyoroti penyempitan jalur yang ekstrem.
"Jalan Latumenten yang semula tiga lajur, kini menyempit drastis menjadi hanya satu lajur aktif," ujar Kent.
Penyempitan ini menyebabkan antrean kendaraan mengular panjang, terutama pada jam sibuk. Beberapa faktor yang memperparah kondisi di lapangan antara lain:
- Titik Berhenti Angkot: Armada JakLingko sering berhenti tepat setelah perlintasan, memicu penumpukan.
- Kendaraan Besar: Truk kontainer dan bus masih melintasi jalur sempit tersebut.
- Botleneck: Efek leher botol yang tidak terhindarkan di area konstruksi.
Evaluasi Keamanan Perlintasan Sebidang
Rano Karno menegaskan bahwa pembangunan ini adalah bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap keamanan perlintasan kereta di Jakarta.
Tragedi kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur menjadi pengingat pentingnya infrastruktur yang aman.
Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama. Dengan adanya flyover, risiko tabrakan antara kereta dan kendaraan bermotor dapat diminimalisir secara signifikan.
Nantinya, jalur bawah di Jalan Latumenten direncanakan hanya akan digunakan khusus untuk akses kendaraan umum.
Solusi Jangka Pendek
Menanggapi keluhan masyarakat, Dinas Perhubungan DKI Jakarta sedang berkoordinasi untuk melakukan rekayasa lalu lintas.
Langkah yang dipertimbangkan adalah pengalihan kendaraan besar ke jalur alternatif dan pergeseran titik henti angkutan umum agar tidak menghambat arus.
Pemerintah berharap warga Jakarta Barat bersabar menghadapi kendala sementara ini.
Hasil akhir proyek ini dijanjikan akan memberikan mobilitas yang lebih aman, cepat, dan nyaman tanpa bayang-bayang risiko kecelakaan di rel kereta api.***