Nasional

Bobibos Bahan Bakar Ramah Lingkungan, Apa Dampaknya ke Mesin Mobil?

Oleh: Katarina Erlita Selasa 02 Des 2025, 17:44 WIB
Bahan Bakar Bobibos. (Sumber: Instagram.com/@bobibos_)

AYOJAKARTA.COM - Kemunculan Bobibos sebagai bahan bakar nabati berbasis jerami menjadi salah satu inovasi energi paling diperbincangkan di Indonesia.

Klaim ramah lingkungan, murah, dan berasal dari limbah pertanian membuat banyak orang penasaran, terutama soal dampaknya terhadap mesin kendaraan.

Apakah biofuel seperti Bobibos aman untuk mesin modern? Atau justru menimbulkan risiko tertentu? Dilansir dari YouTube Dokter Mobil Indonesia, salah satu kekhawatiran utama datang dari sifat biofuel yang umumnya lebih keras dibanding minyak bumi.

Baca Juga: Presiden Prabowo Berencana Tanam 2 Juta Hektar Aren untuk Bahan Baku Bioetanol Pesaing BOBIBOS, Butuh Dana Segini

Dalam pengalaman penggunaan biofuel sebelumnya, bahan bakar jenis ini memang mampu terbakar dengan baik di mesin combustion engine, terutama pada kendaraan karburator atau genset.

Dari sisi pembakaran, performanya tidak menjadi masalah bahkan justru lebih gampang menyala. Namun, tantangan sebenarnya berada pada interaksi biofuel dengan material mesin, khususnya komponen berbahan karet dan plastik seperti:

  • Selang bensin
  • O-ring
  • Seal pompa bensin
  • Komponen plastik pada sistem bahan bakar

Karena setiap jenis biofuel berasal dari sumber biomassa yang berbeda, reaksi kimianya terhadap karet dan plastik juga berbeda-beda.

Baca Juga: Dapat Wejangan dari Ketua MPR, Founder Bobibos Makin Semangat Wujudkan Inovasi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Ada yang bersifat korosif, ada yang tidak, sehingga perlu pengujian komprehensif sebelum dipasarkan luas. Inilah sebabnya Kementerian ESDM menegaskan bahwa Bobibos harus lolos uji tes resmi sebelum digunakan masyarakat.

Risiko kerusakan komponen seperti selang mengeras, o-ring getas, atau seal bocor bukan hal yang bisa dianggap remeh. Pengujian laboratorium pun wajib mencakup efek jangka panjang, bukan hanya sekadar kemampuan mesin untuk menyala.

Dari sisi teknis, banyak pihak meyakini Bobibos dibuat melalui proses pirolisis, yaitu memanaskan biomassa hingga menghasilkan gas yang kemudian dikondensasikan menjadi cairan biofuel.

Teknologi ini sendiri bukan hal baru, wood gas adalah salah satu contoh penerapannya. Masalahnya, pirolisis dalam skala besar membutuhkan energi sangat tinggi, sehingga pengembang harus membuktikan bahwa proses produksi Bobibos lebih murah dan efisien dibandingkan bahan bakar fosil.

Baca Juga: Pesaing BOBIBOS, Bioetanol Aren Sudah Dikembangkan Pertamina dan Pilotnya Diresmikan Kemenhut, Ini Bocorannya

Meski begitu, para engineer yang menilai teknologi Bobibos tetap menunjukkan rasa optimisme. Jika Bobibos berhasil menghadirkan biofuel yang aman, murah, dan efektif, ini bisa menjadi terobosan besar bagi kemandirian energi nasional.

Limbah jerami yang selama ini dianggap tidak bernilai bisa berubah menjadi sumber energi massa yang potensial. Pada akhirnya, Bobibos masih berada di tahap pembuktian.

Semua pihak sepakat bahwa uji laboratorium, efek pada mesin, dan efisiensi produksi adalah faktor penentu masa depannya. Jika lulus semua tahap tersebut, Bobibos bukan hanya inovasi, ia bisa menjadi game changer sektor energi Indonesia.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita