AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami padi bernama Bobibos kembali mencuri perhatian publik. Setelah ramai diperbincangkan karena uji coba dan minat investor asing, kini Bobibos mengambil langkah konkret dengan membangun pabrik bio manufaktur di Jonggol, Kabupaten Bogor.
Melalui pernyataan resmi di Instagram pada Kamis, 18 Desember 2025, pengelola Bobibos menyampaikan bahwa pembangunan pabrik di Jonggol akan dimulai pada Jumat, 19 Desember 2025.
Langkah ini disebut sebagai strategi paralel sambil menunggu kesiapan lahan Bio Manufaktur di Lembur Pakuan, Subang, yang berada di bawah koordinasi Dedi Mulyadi.
“Untuk memastikan timeline proyek tetap berjalan sesuai rencana, kami mulai membangun pabrik di Jonggol. Bobibos sudah siap. Soal launching Lembur Pakuan, silakan tanyakan ke Kang Dedi Mulyadi,” tulis pengelola Bobibos.
Jonggol dipilih bukan tanpa alasan. Selain strategis, kawasan ini akan menjadi etalase pabrik Bobibos yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat.
Tim Bobibos bahkan menyebut Jonggol sebagai titik awal “peradaban baru energi terbarukan” yang lahir dari Indonesia untuk dunia. Bobibos sendiri merupakan bahan bakar orisinal buatan Indonesia yang diklaim berasal dari 100 persen jerami padi.
Limbah pertanian yang selama ini dibakar atau dibuang diolah menjadi bahan bakar nabati dengan klaim ramah lingkungan dan berpotensi lebih terjangkau.
Baca Juga: Bobibos Buka Kartu Soal Riset Bertahun-tahun hingga Kini Mulai Dilirik Negara Asing
Hasil uji laboratorium Lemigas di bawah Kementerian ESDM menunjukkan angka oktan Bobibos mencapai 98,1. Saat ini, Bobibos juga tengah berada pada tahap pilot project melalui Bobibos Mobile Unit (MBU).
Truk transformer ini dirancang untuk memproses jerami menjadi bahan bakar nonfosil dan akan diuji secara terbuka di Jonggol serta Lembur Pakuan, Subang, dengan melibatkan media dan masyarakat.
Di tengah pengembangan domestik, Bobibos juga mulai dilirik dunia internasional. Norwegia dan Timor Leste disebut siap menjajaki investasi bernilai besar setelah melihat potensi teknologi ini.
Pembina Bobibos, Mulyadi, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan delegasi kedua negara tersebut dijadwalkan berlangsung pada Desember 2025.
Baca Juga: Butuh Proses yang Panjang, Bobibos Tak Mau Umbar Janji Instan
Meski demikian, pengelola Bobibos menegaskan fokus utama tetap pada Indonesia. Mereka berharap teknologi ini dapat didukung regulasi dan proteksi negara agar benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.
“Sebagai anak bangsa, harapan kami teknologi ini diambil alih negara. Rakyat butuh energi murah, dan bumi butuh energi yang ramah lingkungan,” tegas pengelola.
Dengan pembangunan pabrik di Jonggol, uji pilot project, serta minat investor asing yang terus berdatangan, Bobibos kini memasuki fase krusial. Jika semua tahapan berjalan sesuai rencana, jerami padi Indonesia berpeluang naik kelas menjadi sumber energi masa depan.***