Nasional

Inovasi Energi Alternatif di Grobogan Jadi Sorotan, Apa Keunggulan Gas Rawa Dibandingkan LPG?

Oleh: Katarina Erlita Rabu 07 Jan 2026, 21:43 WIB
Ilustrasi Gas Rawa Grobogan, Energi Alternatif yang Berpotensi Bikin Pertamina Ketar-ketir. (Sumber: Chat GPT)

AYOJAKARTA.COM - Inovasi energi alternatif kembali menyita perhatian publik. Puluhan keluarga di Grobogan, Jawa Tengah, kini tak lagi bergantung pada elpiji 3 kg.

Mereka beralih menggunakan gas rawa, gas alam dangkal yang muncul saat pengeboran sumur air dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga.

Fenomena ini bukan hal baru bagi Grobogan, daerah yang juga dikenal dengan Api Abadi Mrapen, nyala api alami yang telah menyala ratusan tahun dan menjadi bukti keberadaan gas alam dangkal di wilayah tersebut.

Apa Itu Gas Rawa?

Gas rawa atau biogenic shallow gas adalah gas alam yang terbentuk dari fosil tumbuhan dan hewan purba di lingkungan rawa. Ciri utama gas rawa:

  • Ditemukan pada kedalaman relatif dangkal, sekitar 30–40 meter
  • Mengandung metana (CH₄) sebagai komponen utama
  • Tekanan rendah dan massa ringan
  • Muncul alami saat pengeboran sumur air

Ketika gas ini mencapai permukaan dan bereaksi dengan oksigen, ia dapat menyala seperti yang terjadi pada Api Abadi Mrapen.

Sejarah Pemanfaatan Gas Rawa di Grobogan

Pemanfaatan gas rawa secara modern di Grobogan dipelopori oleh ahli geologi Handoko Teguh Wibowo.

Berangkat dari keresahan terhadap ketergantungan energi fosil, ia menggagas utilisasi gas rawa untuk kebutuhan rumah tangga warga Desa Rajek. Tahapan pemanfaatan gas rawa meliputi:

  1. Pengeboran sumur gas rawa
  2. Pemisahan gas dan air di dalam sumur
  3. Penyaluran gas ke rumah warga melalui pipanisasi
  4. Modifikasi ringan pada kompor gas

Pada 2017, sebanyak 22 rumah mulai menggunakan gas rawa. Kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 40 rumah tangga.

Keunggulan Gas Rawa Dibandingkan LPG

Penggunaan gas rawa menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan elpiji bersubsidi. Keunggulan utama gas rawa:

  • Lebih hemat biaya, warga hanya membayar iuran perawatan
  • Mengurangi ketergantungan impor LPG
  • Berbasis sumber daya lokal
  • Tekanan rendah, relatif lebih aman
  • Ramah lingkungan, karena metana dimanfaatkan, bukan dilepas ke udara

Sebagai perbandingan, pengguna LPG 3 kg umumnya menghabiskan 3–4 tabung per bulan atau sekitar Rp75.000–Rp100.000.

Apakah Gas Rawa Aman Digunakan?

Analis senior Institute for Essential Services Reform (IESR), Marlistya Citraningrum, menyebut kemungkinan gas rawa meledak sangat kecil.

Namun, risiko kebakaran tetap ada jika gas terperangkap di ruang tertutup. Langkah perawatan yang disarankan:

  1. Pemeriksaan pipa secara berkala
  2. Pembuangan gas saat tidak digunakan
  3. Pengawasan ekstra saat musim hujan

Potensi gas rawa tidak hanya ada di Grobogan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat potensi gas rawa mencapai sekitar 14,47 juta SCF. Beberapa daerah lain di Indonesia juga mulai mengkaji pemanfaatannya.

Meski tidak dapat digunakan secara individual dan memerlukan pengelolaan kolektif, gas rawa dinilai mampu:

  • Mengurangi beban subsidi energi
  • Menjadi solusi di daerah terpencil
  • Mendukung transisi energi berkelanjutan

Dengan potensi besar dan teknologi yang sederhana, gas rawa membuka peluang kemandirian energi berbasis sumber daya lokal, sebuah solusi nyata di tengah isu kelangkaan LPG dan ketergantungan impor.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita