AYOJAKARTA.COM - Di tengah polemik inovasi energi seperti Bobibos, pengamat ekonomi Bennix justru menyoroti solusi energi lain yang dinilainya jauh lebih nyata dan berdampak langsung bagi rakyat.
Inovasi tersebut berasal dari Grobogan, Jawa Tengah, berupa pemanfaatan gas rawa sebagai sumber energi memasak rumah tangga.
Melalui kanal YouTube-nya, Bennix menegaskan bahwa gas rawa berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang selama ini membebani keuangan negara dan rumah tangga.
“Ini jauh lebih real, Guys. Karena inovasi ini berhasil menghemat pengeluaran ibu-ibu. Tadinya Rp100.000 per bulan, sekarang cuma Rp25.000,” ujar Bennix.
Selama ini, mayoritas rumah tangga Indonesia mengandalkan LPG impor. Bennix menyebut sekitar 80 persen LPG nasional masih didatangkan dari luar negeri, dengan nilai impor mencapai Rp63 triliun pada 2024. Ironisnya, lebih dari separuh impor tersebut berasal dari Amerika Serikat.
"Mau masak pecelele aja, apinya kita beli dari Amerika Serikat. Sedih banget Indonesia,” katanya.
Berbeda dengan LPG, gas rawa di Grobogan berasal dari endapan fosil tumbuhan dan hewan di kedalaman sekitar 30–40 meter.
Proses produksinya relatif sederhana, mulai dari pengeboran, pemisahan air dan gas, hingga distribusi langsung ke rumah warga melalui pipa.
Warga cukup membayar sistem berlangganan sekitar Rp25.000 per bulan untuk memasak tanpa batas.
Menurut Bennix, skema ini bukan hanya meringankan beban rakyat, tetapi juga berpotensi menghemat subsidi negara.
Ia mengungkapkan bahwa subsidi LPG rumah tangga saat ini mencapai sekitar Rp74 triliun per tahun.
“Kalau makin banyak orang pakai gas rawa, subsidi puluhan triliun itu bisa dialihkan untuk bangun sekolah, jembatan, atau beasiswa,” tegasnya.
Bennix bahkan menyebut inovasi ini bisa membuat Pertamina “ketar-ketir” jika diterapkan secara masif. Namun ia menilai kepentingan rakyat harus menjadi prioritas.
“Perkara Pertamina bangkrut atau tidak, itu urusan bisnis. Yang penting rakyat tidak lagi jadi budak energi impor,” ucapnya.
Sayangnya, sejak ditemukan pada 2017, pemanfaatan gas rawa di Grobogan masih terbatas.
Dari 20 rumah tangga pengguna awal, kini baru berkembang menjadi sekitar 40 KK.
Bennix menilai minimnya dukungan kebijakan, perizinan, dan skala produksi menjadi penyebab utama.
Ia menutup dengan ajakan agar pemerintah dan publik memberi perhatian lebih pada inovasi yang terbukti di lapangan.
“Ini solusi nyata menuju kedaulatan energi. Tinggal kemauan politik dan keberanian untuk memperbesar skalanya,” pungkas Bennix.***
Share this article
Bennix menyoroti pemanfaatan gas rawa Grobogan sebagai solusi nyata kedaulatan energi. Inovasi ini memangkas biaya masak hingga 75%, mengurangi beban subsidi, serta menekan ketergantungan impor LPG.