AYOJAKARTA.COM - Debat mengenai inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami, Bobibos, tidak menunjukkan tanda mereda.
Di tengah sorotan publik dan fenomena viral di media sosial, para akademisi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan sudut pandang ilmiah yang lebih mendalam.
Dalam program UMS Insight yang tayang di Youtube pada Rabu, 31 Desember 2025, dua pakar yang kredibel yakni Prof. Muhammad Mujiburahman, ahli teknologi separasi dan perancangan alat, serta Rois Fatoni, ST, MSC, PhD, pakar termodinamika dan optimasi teknik kimia mengurai potensi dan tantangan Bobibos secara teknis dan ilmiah.
Bobibos diperkenalkan oleh tim penemu sebagai bahan bakar alternatif yang diolah dari jerami padi, dengan klaim nilai Research Octane Number (RON) mencapai angka hampir 98, setara bensin berkualitas tinggi.
Ini tentunya menjadi daya tarik besar di tengah kebutuhan transisi energi dan upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Namun, Prof. Muhammad Mujiburahman mengingatkan bahwa klaim hebat harus ditopang oleh bukti ilmiah yang dapat diuji, direproduksi, dan dipublikasikan sesuai kaidah akademik.
“Informasi yang disampaikan tim Bobibos selama ini belum disertai dengan dokumentasi lengkap dan data ilmiah yang memadai. Secara teori, selulosa dalam jerami bisa difermentasi menjadi gula sederhana dan kemudian menjadi bioetanol,” ujar Prof. Mujiburahman.
"Tetapi klaim ‘bahan bakar setara RON 98’ perlu dibuktikan melalui protokol ilmiah yang jelas," sambungnya lagi.
Dalam penjelasan teknisnya, Prof. Mujiburahman memaparkan perbedaan antara bioetanol dan biodiesel.
Bioetanol adalah hasil fermentasi gula sederhana dengan bantuan mikroba, sedangkan biodiesel adalah ester dari minyak nabati atau hewani yang diproses melalui reaksi kimia dengan alkohol.
“Bioetanol dan biodiesel berbeda secara fundamental, baik dalam proses produksi maupun karakter bahan bakarnya. Klaim Bobibos belum memiliki dokumentasi ilmiah yang menjelaskan proses kimianya secara rinci,” tambah dia.
Sementara itu, Dr. Rois Fatoni menekankan pentingnya keterbukaan data riset.
“Dalam sains, keandalan hasil (reliability) dan kemampuan reproduksi eksperimen (reproducibility) adalah kunci. Tanpa itu, klaim yang terdengar luar biasa bisa jadi hanya fenomena ‘too good to be true’,” kata Rois Fatoni.
Rois juga mencatat bahwa potensi limbah biomassa seperti jerami sebagai sumber energi memang tidak boleh diabaikan, tetapi konversi jerami menjadi bahan bakar dengan kualitas tertentu tetap menghadapi tantangan besar, terutama pada skala industri.
Proses fermentasi yang efektif, distilasi biologis, hingga optimasi termodinamika perlu dibuktikan secara konsisten dalam pengujian independen.
Kedua pakar sepakat bahwa pemerintah Indonesia sudah memiliki roadmap transisi energi dengan target peningkatan penggunaan bioetanol dan biodiesel secara bertahap.
Namun, klaim Bobibos yang sangat ambisius perlu diuji secara transparan oleh komunitas ilmiah, bukan hanya melalui narasi pemasaran.
“Inovasi energi itu penting, tetapi harus didukung dengan bukti ilmiah yang kuat agar tidak menjadi sekadar hype,” tutup Prof. Mujiburahman.

Share this article
Pakar UMS menilai Bobibos berpotensi sebagai inovasi energi dari jerami, namun klaim setara RON 98 dinilai perlu bukti ilmiah kuat agar tidak sekadar fenomena “too good to be true”.