AYOJAKARTA.COM - Setelah sempat tidak ada kabar di awal Januari 2026, akhirnya Bobibos memberikan update mengenai progress pabrik di Timor Leste.
Melalui postingannya di media sosial Instagram yang diunggah pada Rabu, 21 Januari 2026, pihak pengelola Bobibos mengabarkan bahwa tim mereka sudah mulai melakukan pengecekan dan pengujian mesin pabrik.
Alat-alat tersebut nantinya akan dipakai sebagai bio manufaktur untuk produksi biogasoline dan biosolar.
Sementara itu, tim Bobibos Indonesia sedang mempersiapkan pengiriman mesin-mesin pengolah cairan organik.
Jika semua persiapan pabrik sudah rampung, maka perusahaan penyedia bahan bakar ramah lingkungan itu akan segera melakukan peluncuran perdana di Timor Leste.
"Energi murah dan ramah lingkungan untuk rakyat Timor Leste segera hadir," demikian pernyataan dari pihak pengelola Bobibos.
Sontak postingan tersebut langsung menuai beragam komentar dari netizen. Menariknya, tidak sedikit dari warganet yang justru menyoroti mesin-mesin tua yang ada di pabrik.
"Loh pakai mesin tua?" tanya seorang netizen. "Janggal sekali pabrik baru mesinnya udah tua dan kotor," timpal warganet lainnya.

Chris Longdong, pemiliki bisnis start up Waus Energy yang menyulapkan sampah plastik menjadi energi terbarukan pun tergelitik untuk ikut meninggalkan komentar.
"Kok sepertinya semakin jauh dari IKLAN HARGA JUAL BOBIBOS hanya Rp 4.000 per liter yah? Dengan melihat ini, sebagai praktisi yang juga mendesain mesin untuk ubah sampah jadi bahan bakar semakin bingung," tulis Chris Longdong.
"Dengan ditunjukkan video ini, semakin terlihat jelas BAHWA BOBIBOS TIDAK PAHAM APA YANG DILAKUKAN. Karena semakin besar ukuran mesin yang digunakan, akan semakin besar biaya investasi, operasional dan tenaga kerja," sambungnya lagi.
"Bila pada pabrik besar yang sifatnya TERSENTRALISASI seperti ini berarti ada biaya logistik untuk angkut bahan baku ke pabrik pengolahan dan distribusi ke konsumen," pungkasnya.
Chris Longdong meragukan Bobibos bisa menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan dengan harga murah setelah melihat kondisi pabrik di Timor Leste.
Sebab, alat-alat yang dipakai tergolong mesin besar dengan biaya investasi dan operasional yang tidak murah.
Kecurigaan soal tawaran harga yang murah juga sempat diragukan oleh dua pengamat ekonomi yakni Bennix dan Raymond Chin.
Bagaimana nih menurutmu, akankah janji Bobibos untuk menyediakan bahan bakar ramah lingkungan dari jerami dengan harga murah bakal terpenuhi?***