AYOJAKARTA.COM - Produk bahan bakar nabati Bobibos yang diklaim berasal dari limbah jerami kembali jadi pembicaraan publik di awal 2026.
Usai periode viral pada akhir 2025 dengan klaim oktan tinggi, harga murah dan janji kemandirian energi, kini pertanyaan yang mengemuka di jagat warganet sederhana, yaitu bagaimana nasib Bobibos sekarang?
Pada akhir Desember 2025, Bobibos menandatangani MoU dengan Timor Agronova SA di Dili, Timor Leste.
Perjanjian tersebut menyebut alokasi 25 ribu hektare lahan jerami dan penyiapan regulasi khusus untuk memuluskan produksi.
Peluncuran ditargetkan Februari 2026, lengkap dengan pabrik yang videonya sempat dipamerkan via Instagram.
Namun, sejak Januari 2026, akun resmi Bobibos justru minim pembaruan progres. Kondisi ini memicu keraguan dan spekulasi.
Di titik ini, masalah Bobibos bukan sekadar soal teknologi, tetapi manajemen komunikasi publik dan transparansi ilmiah.
Klaim oktan 98 setara Pertamax Turbo dan harga sekitar Rp6.000/liter membuatnya tampak too good to be true jika tanpa verifikasi.
Apalagi, konversi limbah jerami ke bahan bakar berbasis bio-etanol atau bio-fuel secara komersial bukan perkara sederhana.
Industri biofuel global mengajarkan bahwa yield, stabilitas emisi, ketahanan mesin, hingga logistics cost menjadi faktor pembatas.
Regulasi pun menjadi hambatan struktural. Untuk bisa dijual resmi, produk bahan bakar harus melalui rangkaian uji laboratorium, uji durabilitas mesin, sampai road test puluhan ribu kilometer.
Prosesnya dapat memakan setidaknya 8 bulan, bahkan lebih. Tanpa hasil uji dan sertifikasi dari Kementerian ESDM, Bobibos belum bisa dipasarkan secara luas.
Warganet kemudian memecah diri ke dua kubu yakni skeptis dan suportif. Di satu sisi, komentar publik mempertanyakan absennya penjualan retail dan kecenderungan Bobibos mencari investor ketimbang membangun pembuktian pasar.
Di sisi lain, masih ada dukungan dari publik Jawa Barat yang melihat Bobibos sebagai inovasi anak bangsa yang patut diberi kesempatan.
Pada akhirnya, nasib Bobibos bergantung pada dua variabel utama, yaitu transparansi bukti ilmiah dan kedisiplinan melewati prosedur perizinan energi.
Jika kedua prasyarat ini terpenuhi plus realisasi MoU di Timor Leste, Bobibos berpeluang membuka babak baru biofuel domestik dari limbah pertanian.
Jika tidak, ia berisiko bergabung dalam daftar inovasi viral yang redup sebelum sempat unjuk gigi.
Yang kini paling ditunggu publik sederhana, yaitu progres nyata, bukan sekadar narasi.***
Share this article
Bobibos kembali jadi sorotan karena kerja sama dengan Timor Leste namun progres produksi minim, memicu skeptisisme publik. Nasibnya bergantung pada transparansi ilmiah dan izin energi yang ketat.