Nasional

Tak Hanya untuk Kulit, Master Antioksidan Kini Bisa Diproduksi dari Limbah Bahan Bakar

Oleh: Katarina Erlita Senin 02 Mar 2026, 15:38 WIB
Glutation dari Limbah Bioetanol. (Sumber: Gemini AI)

AYOJAKARTA.COM - Apa itu glutation dan mengapa disebut sebagai “master antioksidan”?

Pertanyaan ini mengemuka setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi produksi glutation dari limbah industri bioetanol.

Terobosan ini tidak hanya menyasar sektor kesehatan, tetapi juga memperkuat konsep ekonomi sirkular berbasis biomassa.

Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Farida Rahayu, menjelaskan bahwa glutation merupakan antioksidan alami yang diproduksi tubuh manusia, hewan, dan mikroorganisme.

Senyawa ini tersusun dari tiga asam amino: asam glutamat, sistein, dan glisin.

Produksinya dalam tubuh cenderung menurun setelah usia 25 tahun, sehingga asupan tambahan dari makanan atau suplemen kerap diperlukan.

Manfaat glutation tidak terbatas pada kecantikan. Senyawa ini berperan melawan radikal bebas, mendukung detoksifikasi hati, menjaga kesehatan jantung dan otak, meningkatkan sistem imun, hingga membantu mengurangi peradangan.

Sejumlah riset juga mengaitkannya dengan perlindungan sel hati dan potensi meringankan efek samping kemoterapi, meski sebagian klaim masih memerlukan studi klinis lanjutan.

Secara global, produksi glutation murni telah melampaui 200 ton per tahun dengan harga sekitar 300 dolar AS per kilogram.

Permintaan diproyeksikan terus tumbuh hingga 2027, menjadikannya komoditas bernilai tinggi di sektor farmasi dan nutraceutical.

Melihat peluang tersebut, BRIN memanfaatkan limbah yeast dari industri bioetanol sebagai sumber glutation.

Yeast secara alami menghasilkan glutation, sehingga proses difokuskan pada ekstraksi dan pemisahan sel secara optimal.

Tim riset mengembangkan tiga pendekatan: ekstraksi sel, rekayasa media, dan rekayasa genetika.

Metode biologis berbasis enzimatis menghasilkan sekitar 40 mg/L, sedangkan rekayasa media mampu meningkatkan produksi hingga 95 mg/L.

Ke depan, BRIN menargetkan pengembangan yeast rekombinan yang mampu memproduksi bioetanol dan glutation dalam satu bioreaktor.

Skema ini berpotensi meningkatkan efisiensi industri sekaligus menciptakan nilai tambah baru dari limbah.

Bioetanol sendiri merupakan bahan bakar nabati hasil fermentasi gula, pati, atau lignoselulosa yang dicampurkan ke bensin untuk meningkatkan angka oktan dan menekan emisi.

Indonesia memiliki bahan baku melimpah seperti molases, singkong, jagung, sorgum, jerami, hingga tandan kosong kelapa sawit.

Pengembangan bioetanol tidak hanya mengurangi ketergantungan impor BBM, tetapi juga mendorong ekonomi berbasis sumber daya domestik.

Inovasi glutation dari limbah bioetanol menunjukkan bahwa transisi energi dan kesehatan dapat berjalan beriringan.

Dengan dukungan kebijakan dan hilirisasi riset yang konsisten, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting dalam industri bioenergi sekaligus bahan baku farmasi bernilai tinggi.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita