AYOJAKARTA.COM - Penerapan mandatori campuran bioetanol pada bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia dipastikan membuka pasar besar bagi produsen biofuel Amerika Serikat.
Asosiasi Bahan Bakar Terbarukan AS atau Renewable Fuels Association (RFA) memperkirakan kebutuhan bioetanol Indonesia bisa menembus 1 miliar galon jika kebijakan E10 diterapkan secara nasional.
CEO RFA, Geoff Cooper, menyebut Indonesia sebagai pasar prioritas etanol AS.
Menurutnya, adopsi E10 akan menciptakan lonjakan permintaan signifikan sekaligus membuka peluang ekspor besar bagi petani jagung dan produsen bioetanol Negeri Paman Sam.
Senada, CEO Growth Energy, Emily Skor, mengungkapkan potensi ekspor bioetanol AS ke Indonesia mencapai 900 juta galon jika mandatori E10 benar-benar berjalan.
Indonesia dinilai sangat strategis karena memiliki populasi besar dan konsumsi bensin yang terus meningkat setiap tahun.
Peluang ekspor tersebut menguat setelah ditandatanganinya kesepakatan dagang timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS. Perjanjian ini diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada Februari 2026 di Washington DC.
Dalam dokumen ART, Indonesia ditegaskan tidak boleh memiliki kebijakan yang menghambat impor bioetanol dari Amerika Serikat.
Klausul ini secara otomatis membuka keran impor bioetanol dengan tarif bea masuk 0%, sehingga secara harga menjadi lebih kompetitif dibandingkan sumber lain.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kebijakan bioetanol bersifat mandatori dan menjadi bagian dari strategi kedaulatan energi nasional.
Pemerintah menargetkan penerapan E5 pada 2028, meningkat menjadi E10 pada 2030, bahkan membuka opsi E20 sesuai kesiapan pasokan dan infrastruktur.
Saat ini, produksi bioetanol dalam negeri masih jauh dari kebutuhan. Pada 2025, kapasitas nasional baru sekitar 60 ribu kiloliter, sementara kebutuhan akan melonjak hingga ratusan ribu kiloliter ketika E10 diterapkan.
Kondisi inilah yang membuat impor bioetanol, khususnya dari AS, dinilai tak terelakkan dalam jangka menengah.
Bagi Amerika Serikat, kebijakan ini menjadi angin segar. Petani jagung dan produsen etanol AS berpeluang menikmati pasar ekspor raksasa baru.
Sementara bagi Indonesia, tantangan terbesar ke depan adalah mempercepat pengembangan bahan baku domestik, memperkuat industri pengolahan, serta memastikan transisi energi berbasis bioetanol benar-benar memberi manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan.***
Share this article
Mandatori E10 Indonesia jadi peluang ekspor besar bagi produsen bioetanol AS. Melalui kesepakatan dagang ART 2026, impor tarif 0% dibuka untuk penuhi kurangnya pasokan domestik demi kedaulatan energi.