AYOJAKARTA.COM - Apa itu glutation dan mengapa disebut sebagai “master antioksidan”?
Pertanyaan ini kembali mencuat setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi produksi glutation dari limbah industri bioetanol.
Terobosan ini dinilai strategis karena menggabungkan aspek kesehatan dan ekonomi sirkular berbasis biomassa.
Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Farida Rahayu, menjelaskan bahwa glutation adalah antioksidan alami yang diproduksi dalam tubuh manusia, hewan, dan mikroorganisme.
Senyawa ini tersusun atas tiga asam amino, yakni asam glutamat, sistein, dan glisin.
Produksi glutation dalam tubuh cenderung menurun setelah usia 25 tahun, sehingga asupan tambahan dari makanan atau suplemen kerap dibutuhkan.
Secara fungsi, manfaat glutation tidak terbatas pada kecantikan. "Jadi tidak hanya untuk kecantikan sebenarnya. Tapi untuk saat ini yang banyak memanfaatkan glutation itu adalah ibu-ibu kaum hawa," ujar Farida Rahayu, dilansir dari laman resmi BRIN.
Senyawa ini berperan melawan radikal bebas, membantu detoksifikasi hati, menjaga kesehatan jantung dan otak, meningkatkan sistem imun, serta mengurangi peradangan.
Sejumlah riset juga mengaitkannya dengan perbaikan resistensi insulin, perlindungan sel hati, hingga meringankan efek samping kemoterapi.
Namun, sebagian klaim terutama terkait pencerahan kulit masih membutuhkan pembuktian ilmiah lanjutan.
Di tingkat global, produksi glutation murni mencapai lebih dari 200 ton per tahun dengan harga sekitar 300 dolar AS per kilogram.
Permintaan pasar diproyeksikan terus meningkat hingga 2027, menjadikannya komoditas bernilai tinggi di sektor farmasi dan nutraceutical.
Melihat peluang tersebut, BRIN memanfaatkan limbah yeast dari industri bioetanol sebagai sumber glutation.
Menurut Farida, yeast secara alami sudah memproduksi glutation, sehingga peneliti cukup mengekstraksinya melalui proses pemisahan sel.
Tantangan utama saat ini adalah optimalisasi metode pemisahan agar lebih efisien secara industri.
Tim riset mengembangkan tiga pendekatan produksi, yakni ekstraksi sel, rekayasa media, dan rekayasa genetika.
Pada metode ekstraksi, pendekatan biologis berbasis enzimatis menghasilkan konsentrasi glutation sekitar 40 mg/L—lebih tinggi dibanding beberapa studi sebelumnya pada industri wine dan bir.
Sementara melalui rekayasa media dengan modulasi prekursor asam amino, produksinya dapat meningkat hingga 95 mg/L.
Ke depan, BRIN menargetkan pengembangan yeast rekombinan yang mampu memproduksi bioetanol dan glutation dalam satu bioreaktor.
Skema ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan nilai tambah industri bioenergi nasional.
Menariknya, residu sel yeast pasca-ekstraksi juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, biofertilizer, dan agen bioremediasi.
Artinya, inovasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan pasar glutation, tetapi juga memperkuat konsep zero waste dalam industri bioetanol.
Dengan potensi bahan baku domestik melimpah, inovasi glutation BRIN membuka peluang hilirisasi riset sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku farmasi di masa depan.
Share this article
BRIN berinovasi memproduksi glutation dari limbah industri bioetanol. Glutation, "master antioksidan", penting bagi kesehatan. Riset ini mendukung ekonomi sirkular dan kurangi ketergantungan impor.