AYOJAKARTA.COM - Pakar militer dan analis geopolitik Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada bidang keamanan, tetapi juga bisa memicu efek domino terhadap perekonomian Indonesia.
Dalam perbincangan di podcast milik Denny Sumargo, Connie menekankan pentingnya kesiapan pemerintah dan masyarakat menghadapi potensi krisis ekonomi akibat gejolak geopolitik.
Menurut wanita yang kini menjadi pakar militer tersebut, masyarakat sering kali hanya fokus pada isu perang yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Padahal, dampak sebenarnya bisa langsung dirasakan hingga ke kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“Jangan kita cuma bahas perangnya, tapi kemudian kita lupa PR kita banyak. Hormuz yang terblokir efeknya masuk ke dapur kita semua,” ujar Connie Rahakundini Bakrie.
Ia menjelaskan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama jika berdampak pada jalur perdagangan energi seperti Selat Hormuz, dapat memicu lonjakan harga energi global.
Kenaikan harga energi tersebut pada akhirnya akan memengaruhi harga barang kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, Connie menilai pemerintah perlu melakukan simulasi ekonomi atau wargaming untuk memprediksi berbagai skenario krisis.
Dengan perhitungan yang matang, dampak terhadap ekonomi domestik bisa diantisipasi sejak awal.
“Kalau ahli ekonomi bisa menghitung, mereka bisa wargaming. Wargaming sebulan, tiga bulan, sampai sembilan bulan. Itulah perlunya orang pintar,” kata pakar militer berusia 61 tahun itu.
Selain kesiapan ekonomi, Connie Rahakundini Bakrie juga menyoroti pentingnya menjaga konsistensi politik luar negeri Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa sejak lama Indonesia dikenal dengan prinsip bebas aktif yang tidak memihak blok kekuatan mana pun di dunia.
Menurut Connie, posisi tersebut menjadi identitas kuat Indonesia sejak penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung yang melahirkan semangat solidaritas negara berkembang atau yang dikenal sebagai “Bandung Spirit”.
“Indonesia itu dikenal dunia karena konferensi Asia Afrika. Orang luar kalau dengar Indonesia langsung ingat Bandung Spirit,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, wanita kelahiran Bandung itu juga menyinggung langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang disebut ingin berperan sebagai mediator dalam konflik global.
Ia menilai niat tersebut positif, tetapi perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak posisi netral Indonesia.
Connie Rahakundini Bakrie menilai pendekatan diplomasi yang melibatkan negara tertentu di Timur Tengah, seperti kedekatan dengan Abdullah II dari Yordania, bisa menimbulkan persepsi keberpihakan jika tidak dikelola dengan tepat.
“Niatnya baik, tidak bisa disalahkan. Tapi dalam konteks geopolitik kawasan, ada persepsi negara tertentu dianggap pro-Barat,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa yang paling penting saat ini adalah kesiapan nasional menghadapi dampak krisis global.
Menurutnya, masyarakat juga perlu disadarkan bahwa konflik internasional bisa memengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri.
“Masyarakat harus aware. Kondisi global itu bisa memberikan impact sampai ke dapur kita,” pungkas Connie.