AYOJAKARTA.COM - Pakar militer Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan pemerintah agar tidak hanya terpaku pada dinamika politik global, tetapi segera menghitung dampak ekonomi dari konflik Iran dan Israel terhadap Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam podcast bersama Denny Sumargo.
Menurut Connie, eskalasi terbaru berpotensi merusak stabilitas yang sebelumnya sempat terjaga melalui berbagai kesepakatan regional.
Ia menyinggung periode stabilitas pasca-serangan 2019 hingga 2026 yang dinilainya relatif kondusif.
“Accord dan mereka berdamai kan 27 tahun loh dari mulai serangan 2019 sampai 2026, so they are good gitu. Nah sekarang ada kayak begini kan kacau lagi semuanya,” ujarnya.
Wanita yang menjadi pakar militer itu juga menyoroti dinamika politik internal Iran, termasuk kembali mencuatnya narasi soal Reza Pahlevi dan perbandingan kondisi Iran sebelum dan sesudah Revolusi Islam.
Namun baginya, fokus utama bukanlah spekulasi motif politik pihak luar, melainkan kesiapan Indonesia menghadapi dampaknya.
“Buat saya yang paling penting sekarang Indonesia tuh harus bersiap-siap. Satu, kalau perang ini berkelanjutan karena ini eskalasinya sudah sangat tinggi, sudah sangat sensitif,” tegas Connie Rahakundini Bakrie.
Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada narasi “Perang Dunia Ketiga” yang menurutnya kerap menjadi clickbait di media sosial.
“Kita tuh hobi banget ngomong perang dunia ketiga. Itu narasi paling seksi, karena orang langsung nyimak. Tapi belum tentu,” katanya.
Meski belum tentu menjadi perang global, Connie menilai eskalasi saat ini sudah berada pada level mengkhawatirkan, terutama setelah sejumlah negara Eropa memberi akses pangkalan militer kepada Amerika Serikat.
Situasi tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik dan memperparah dampak ekonomi global.
Pakar militer berusia 61 tahun tersebut menekankan pentingnya kalkulasi cepat dari pemerintah, khususnya terkait jalur energi strategis seperti Selat Hormuz.
“Ini kalau perang berjalan 3 bulan, 6 bulan, setahun, efeknya ke Hormuz berapa lama? Impact ke energi kita berapa banyak? Apakah naik 5 persen, 50 persen, 100 persen?” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi akan berdampak sistemik. “Ketika energi ini naik, otomatis semua barang rumah tangga naik pasti. Dan Indonesia secara keadaan itu sedang enggak baik-baik,” ujarnya.
Connie Rahakundini Bakrie menutup dengan peringatan bahwa stabilitas suatu negara sangat bergantung pada ketersediaan bahan pokok.
“Sebenarnya apapun negara, selama bahan pokok itu terjamin, mereka akan aman,” katanya, seraya mengingatkan bahwa lonjakan harga pangan dan energi bisa menjadi risiko nyata jika konflik terus berlanjut.***

Share this article
Connie Bakrie di podcast Densu ingatkan RI siaga dampak ekonomi konflik Iran-Israel. Fokusnya: waspada lonjakan harga energi di Selat Hormuz yang picu kenaikan bahan pokok, bukan sekadar isu Perang.