AYOJAKARTA.COM - Pakar militer Connie Rahakundini Bakrie mengungkap pandangannya soal akar konflik Timur Tengah dalam podcast bersama Denny Sumargo.
Dalam perbincangan tersebut, Connie menilai kekacauan kawasan Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari peran historis Inggris dan Prancis.
Menurut wanita yang menjadi pakar militer tersebut, eskalasi konflik terbaru dipicu oleh faktor kehormatan nasional Iran.
Ia menyoroti insiden yang dinilai mempermalukan kepala negara Iran dan keluarganya.
“Itu kan buat rakyat Iran, terlepas dia yang pro mau Iran berubah atau tidak, itu kan kehormatan negara, kepala negara kita. Coba kepala negara kita tiba-tiba digituin. Bukan main-main,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa situasi tersebut memicu kemarahan kolektif rakyat Iran.
“Dan pasti semua rakyat akan bersatu marah. Nah itu menurut saya momentum yang akan membuat rakyat Iran, dia enggak akan retaliasi setengah-setengah, pokoknya akan hajar terus,” kata Connie.
Connie Rahakundini Bakrie juga menilai serangan balasan Iran ke sejumlah negara Teluk yang memiliki pangkalan Amerika Serikat menunjukkan kompleksitas konflik, yang tidak bisa semata dilihat sebagai isu solidaritas agama.
“Narasi yang dibungkus adalah kita warga Indonesia masa berdiam diri saat saudara kita yang Islam diserang. Tapi kan Islam kita beda, kita Sunni, dia Syiah. Jadi ke mana-mana,” jelasnya.
Lebih jauh, Connie menegaskan bahwa akar persoalan bukan semata konflik agama, melainkan peta kekuasaan politik yang dibentuk sejak runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah.
Ia menyebut wilayah tersebut selama 400 tahun berada di bawah kendali Sultan tanpa penarikan batas negara yang kaku.
“Sultan itu enggak mau tarik garis mana Palestina mana Israel. Why? Dia tahu betul Islamnya terpecah, tribes-nya terpecah,” ujarnya.
Menurut pakar militer berusia 61 tahun tersebut, masalah muncul ketika Inggris dan Prancis menarik garis batas secara sepihak pasca-Perang Dunia I.
Ia merujuk pada kebijakan kolonial yang kemudian disepakati kekuatan besar seperti Amerika Serikat.
“Tiba-tiba datanglah dua kolonel ini, tarik aja garis. Dan itu di-acc oleh negara besar waktu itu,” katanya.
Connie Rahakundini Bakrie mempertanyakan mengapa penyelesaian konflik modern tidak melibatkan secara serius negara-negara yang dulu membentuk peta kawasan.
“Kalau memang kita betul real mau menyelesaikan, kenapa enggak panggil aja yang bikin gara-gara ini, duduk bareng, selesaiin,” tegasnya.
Meski kritis, Connie tetap mengapresiasi upaya diplomasi tertentu. Ia menyebut keberhasilan Presiden Donald Trump dalam memfasilitasi Abraham Accords sebagai contoh bahwa dialog tetap mungkin dilakukan.
Bagi wanita asal Bandung tersebut, solusi konflik Timur Tengah harus berangkat dari keberanian membaca sejarah secara jujur, bukan sekadar membungkusnya dengan narasi agama semata.***

Share this article
Connie Bakrie di podcast Denny Sumargo sebut akar konflik Timur Tengah adalah warisan kolonial Inggris-Prancis, bukan sekadar agama. Ia menekankan faktor kehormatan nasional Iran & sejarah batas.