AYOJAKARTA.COM -- Selain Zainal Arifin Mochtar dan Feri Amsari, publik juga menyoroti sosok Bivitri Susanti yang terlibat dalam film dokumenter Dirty Vote.
Tiga akademisi yang dikenal sebagai pemeran dalam Dirty Vote dan merupakan Ahli Hukum Tata Negara, dianggap berafiliasi dengan salah satu peserta pilpres.
Sehubungan dengan adanya anggapan tersebut, Bivitri Susanti yang merupakan salah satu pemeran Dirty Vote memberi sejumlah penjelasan.
Banyak menyajikan fakta dari sejumlah media, sejumlah kalangan berharap data-data tersebut bisa dijadikan sebagai laporan kepada penyelenggara pemilu.
Terkait dengan adanya harapan tersebut di masyarakat, Bivitri mempersilahkan kepada siapapun untuk bisa menindak-lanjuti secara hukum.
“Jadi kalau mau dibawa ya sangat bisa, karena yang bisa membawa persoalan kecurangan bukan masyarakat sipil sebenarnya, tetapi para peserta pemilu,” jelas Bivitri.
Lebih lanjut Bivitri juga menjelaskan perihal kuantitas data-data potensi kecurangan yang dimiliki oleh para partai peserta pemilu.
Menurut Bivitri, data-data dalam tayangan Dirty Vote diambil dari sejumlah media yang sudah pasti tersaji ke publik.
Karenanya Bivitri tidak menampik pernyataan Jusuf Kalla perihal kuantitas data yang bisa disajikan di film Dirty Vote.
“Kami jaga betul semua hal yang dipaparkan di film adalah yang sudah terpublikasi, kalo Pak JK bilang baru 25 persen, karena itu yang aman secara legal,” jelasnya.
Tujuan beredarnya tayangan film Dirty Vote saat memasuki masa tenang, menurut Bivitri bukan untuk mempengaruhi elektabilitas salah satu paslon.
Fakta perlunya ada pembahasan mengenai sistem kenegaraan yang lebih transparan, menurut Bivitri merupakan esensi dan perlu dipahami.
“Bagi kami biar orang-orang membincangkan ini dulu, bahwa ada sesuatu yang harus dibicarakan lebih dari siapa yang menang, itu yang kami inginkan,” jelasnya.
Selain perlu ada perbincangan, film Dirty Vote menurut Bivitri merupakan salah satu upaya untuk mencegah potensi kecurangan secara struktural dan masif.
Baca Juga: Film Dokumenter Dirty Vote Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Zainal Arifin: Ini Risiko, Hadapi Saja
Dalam pelaksanaan demokrasi yang diselimuti dengan ambisi kekuasaan, upaya manipulasi berpotensi untuk bisa terjadi.
Film Dirty Vote, secara keseluruhan merupakan sebuah rangkaian peristiwa yang perlu menjadi sebuah refleksi pelaksanaan dan transisi demokrasi.
Sejalan dengan proses perhitungan cepat yang masih berlangsung dan menimbulkan persoalan, Bivitri mengaku sudah lebih dahulu memprediksi.
“Kami tidak kaget sebenarnya, karena itulah yang akan dihasilkan dari sebuah sistem yang memang disalah gunakan oleh yang punya kekuasaan,” ungkap Bivitri.
Baca Juga: Film Dirty Vote Mengungkap Fakta di Balik Kemenangan SBY atas Prabowo! Berapa Persentasenya?
Menyikapi tanggapan sebagian kalangan sebagai artis bayaran, Bivitri Susanti memberikan pernyataan sanggahan.
“Ngomong-ngomong buat yang menuduh macam-macam saya timnya 01 atau 03, saya sebagai artis tidak dibayar sama sekali,” tegas Bivitri.***