AYOJAKARTA.COM – Penayangan film dokumenter bertajuk “Dirty Vote” di masa tenang Pemilu 2024 kemarin menimbulkan pro dan kontra di kalangan publik.
Banyak pihak yang menyebut jika dirilisnya film dokumenter Dirty Vote ini dinilai sengaja untuk menyerang salah satu kubu paslon.
Film Dirty Vote sendiri berisi kritikan terhadap sistem pemilihan umum (pemilu) yang ada di Indonesia khususnya soal persaingan para capres.
Ada tiga aktor yang terlibat dalam film dokumenter yang dibuat oleh sutradara bernama Dandhy Laksono ini.
Ketiga aktor utama yang membintangi film Dirty Vote tersebut adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan juga Feri Amsari.
Baca Juga: Daftar 17 Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, Yakin Masih Mau Ambil di 2024?
Namun rupanya, banyak publik yang justru menilai ada berbagai kejanggalan dalam film tersebut.
Dikutip dari akun Tiktok @indonesiamajubanget pada 16 Februari 2024, berikut berbagai kejanggalan dalam film Dirty Vote yang diungkap oleh publik.
1. Sutradara Film Dirty Vote
Sutradara yang menggarap film Dirty Vote ini adalah Dandhy Laksono, dimana pada tahun 2019 silam dirinya pernah didakwa dengan tuduhan ujaran kebencian terhadap masyarakat Papua.
Akan tetapi, meski sempat didakwa dengan tuduhan ujaran kebencian, Dandhy Laksono tidak pernah ditahan.
2. Film dirilis di masa tenang Pemilu
Pada Pemilu tahun 2019 silam, rupanya Dandhy Laksono juga merilis film berjudul “Sexy Killer”.
Film Sexy Killer ini tepatnya dirilis pada tanggal 13 April 2019, sementara kala itu Pemilu diadakan 17 April 2019.
Sehingga sama seperti sekarang, film Dirty Vote juga dirilis pada tanggal 12 Februari 2024 sedangkan pemilu digelar pada 14 Februari 2024.
Tentunya hal ini kemudian dinilai bahwa bukan merupakan sebuah kebetulan, tetapi ada maksud dan tujuan politik tertentu dari film ini.
3. Tokoh yang membintangi Dirty Vote
Seperti yang diketahui, film ini dibintangi oleh Bivitri Susanti, Zainal Arifin Mochtar, dan Feri Amsari yang merupakan akademisi hukum.
Namun ketiga tokoh tersebut dianggap tidak netral untuk membahas soal Pemilu lantaran ketiganya ternyata pernah menjadi staf khusus Mahfud MD semasa menjabat Menkopolhukam.
4. Salam 4 jari
Kejanggalan keempat terkait dengan salam 4 jari sebagai kolaborator jika tujuannya untuk membuka data maupun fakta secara netral.
Namun kenapa malah melibatkan gerakan non-partai yang jelas-jelas mendiskualifikasikan salah satu paslon sebagai kolaborator.
Sehingga dinilai oleh publik tampak jelas jika ada tujuan khusus yaitu merugikan salah satu paslon.
5. Kecurangan dituduhkan sepihak
Selain itu kejanggalan dalam film ini juga terlihat jelas ketika pembahasan soal kecurangan lebih banyak membahas dari paslon 02.
Padahal seperti yang diketahui, banyak beredar di media sosial soal kecurangan yang juga dilakukan oleh paslon lain.
Salah satunya berita viral soal surat suara yang sudah tercoblos paslon 03 yang terjadi di luar negeri.
Selain itu soal tempat ibadah yang disebut-sebut dijadikan tempat kampanye oleh salah satu paslon 03.
Karena itulah film Dirty Vote ini dianggap tidak bisa dibilang netral dan objektif dan justru disebut membuat fitnah dan menebar kebencian dengan landasan mengungkap kebenaran.

Share this article
Ketiga aktor utama yang membintangi film Dirty Vote tersebut adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan juga Feri Amsari.