AYOJAKARTA.COM - Pasar kendaraan listrik Indonesia memasuki fase baru yang jauh lebih kompetitif. Jika selama dua tahun terakhir Wuling Air EV dan Wuling Binguo menjadi pilihan utama masyarakat.
Kini keduanya harus menghadapi kenyataan baru lantaran posisi mereka mulai tergeser oleh gelombang model-model baru yang lebih agresif, lebih canggih, dan lebih diminati konsumen.
Data penjualan Oktober 2025 menunjukkan lonjakan luar biasa pada distribusi mobil listrik, mencapai 13.935 unit, memecahkan rekor bulanan kendaraan listrik di Indonesia.
Baca Juga: Spesifikasi Almaz Darion, Mobil Litrik Terbaru Wuling yang Langsung Jadi Primadona di Indonesia
Angka ini melonjak 245% dibandingkan September yang hanya 4.039 unit. Dominasi Battery Electric Vehicle (BEV) juga semakin kuat, meraih 18,8% pangsa pasar dari total penjualan nasional, sebuah lompatan besar dari posisi 5% tahun sebelumnya.
Dalam peta baru ini, BYD muncul sebagai raja baru mobil listrik di Indonesia. Produsen asal China tersebut berhasil menempatkan tiga model sekaligus di posisi teratas penjualan Januari–Oktober 2025:
- BYD Atto 1 – 9.496 unit (jawara nasional)
- BYD M6 – 9.359 unit
- BYD Sealion 07 – 7.461 unit
Angka ini bukan hanya lebih tinggi dari semua model EV lain, tetapi bahkan melampaui total penjualan beberapa merek sepanjang 10 bulan penuh.
Baca Juga: Penjualan Anjlok, Benarkah Wuling Terancam Bangkrut? Bennix Beri penjelasan
Ditambah lagi, segmen premium ikut bergerak dengan Denza D9 (6.967 unit), sementara pasar anak muda diramaikan oleh Chery iCar 03 (5.497 unit).
Jika dibandingkan, posisi Wuling kini tidak lagi sekuat dulu. BinguoEV hanya mencatat 3.696 unit, sedangkan Air EV berada di angka 3.199 unit, tertinggal jauh dari raja baru Atto 1 yang penjualannya hampir tiga kali lipat lebih besar. Mengapa bisa kalah jauh? Ada beberapa faktor kunci:
1. Produk baru lebih inovatif
Model-model terbaru hadir dengan teknologi modern, jarak tempuh lebih jauh, fitur ADAS lengkap, dan desain futuristis. Sementara itu, Air EV dan Binguo belum mengalami pembaruan signifikan.
2. Tren konsumen bergeser ke mobil lebih besar
Banyak pembeli kini mencari mini-MPV, crossover, atau hatchback kompak. Mobil ultra-compact seperti Air EV semakin dipandang kurang fleksibel untuk kebutuhan keluarga.
3. Strategi harga yang lebih agresif dari kompetitor
BYD dan beberapa merek baru menawarkan harga kompetitif dengan fitur yang lebih kaya, membuat value for money-nya jauh lebih menarik.
4. Branding dan marketing yang lebih kuat
Produsen baru gencar promosi melalui test drive massal, influencer, dan komunitas, membangun citra modern yang lebih cepat diterima publik.
Gelombang ini menandai babak baru industri otomotif nasional. Dengan infrastruktur charging yang terus berkembang dan pilihan model makin beragam, kompetisi BEV akan semakin ketat. Dan untuk saat ini, gelar “Raja Baru Mobil Listrik RI” jelas dipegang oleh BYD dipimpin oleh Atto 1 sebagai bintangnya.***