AYOJAKARTA.COM - Inovasi energi baru terus bermunculan, dan salah satu yang paling menarik perhatian publik adalah Bobibos, bahan bakar nabati yang disebut-sebut mampu menjadi alternatif pengganti BBM fosil.
Meski banyak yang menyamakan Bobibos dengan etanol, pihak pengembang menegaskan bahwa keduanya sama sekali berbeda, baik dari segi bahan baku maupun teknologi produksinya.
Founder Bobibos menjelaskan, “BOBIBOS bukan etanol. Teknologinya berbeda, bahannya berbeda, dan kami sudah diskusi dengan Kementerian ESDM.”
Bobibos menggunakan jerami sebagai biomassa, bukan tebu, singkong, maupun fermentasi alkohol seperti etanol pada umumnya. Proses konversinya pun berbeda total, karena tidak melibatkan jalur produksi biofuel tradisional.
Salah satu klaim terbesar Bobibos adalah tingginya nilai oktan. Dalam uji resmi di Lemigas, bahan bakar ini mencatat RON 98,1, setara bahkan sedikit lebih tinggi dari kelas premium seperti Pertamax Turbo.
Hal ini membuatnya digadang sebagai bahan bakar generasi baru yang lebih bersih dan efisien. Menurut pihak Bobibos, inovasi ini murni lahir dari kreativitas anak bangsa.
“Dari limbah jerami menjadi energi berkualitas tinggi,” ujar founder dalam pernyataannya di akun Instagram @bobibos_. Kendati performanya menjanjikan, Bobibos belum bisa diedarkan secara massal.
Baca Juga: Catat! 11 Ruas Jalan Ini Aakan Ditutup Pada 23 November 2025 Dalam Rangka Pertamina Ecorunfest
Kementerian ESDM menegaskan bahwa setiap jenis BBM baru wajib melalui proses uji ketat selama minimal delapan bulan untuk memastikan keamanan mesin, emisi, dan standar teknis.
Plt Kepala Lemigas, Noor Arifin Muhammad, mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi setiap inovasi energi baru. Namun proses validasi tetap perlu melalui tahapan lengkap: uji laboratorium, engine test bench, uji jalan, hingga penyusunan rekomendasi teknis.
Founder Bobibos pun menyambut baik proses ini. Ia menyatakan siap mengikuti seluruh arahan regulator demi memastikan legalitas dan keselamatan pengguna.
Salah satu tantangan terbesar Bobibos adalah ketiadaan parameter resmi di Kementerian ESDM untuk produk yang teknologinya benar-benar baru ini.
“Sampai hari ini ESDM belum memiliki parameter resmi untuk kategori bahan bakar seperti Bobibos,” ungkap pengembang. Karena itulah, perlu forum diskusi melibatkan produsen mesin, regulator, kampus, dan peneliti agar parameter dan metode uji dapat dirumuskan.
Istilah “biogasoline” bahkan baru disepakati untuk produk pengganti bensin, sementara varian pengganti solar masih dalam pembahasan. Bobibos menawarkan terobosan menarik yaitu bahan bakar berbasis jerami dengan oktan tinggi dan emisi rendah.
Namun sebelum benar-benar menjadi solusi energi baru, produk ini harus melewati pengujian panjang dan penyusunan standar teknis yang belum tersedia. Terobosan besar ini siap diuji, namun masih harus membuktikan diri di hadapan regulator dan industri.***
Share this article
Bobibos beda dari etanol karena berbahan jerami dan teknologi unik. Sudah diuji Lemigas dengan RON 98,1, tapi belum boleh dijual karena menunggu sertifikasi dan parameter resmi dari ESDM.