Metropolitan

Apa Itu PLTSa? Proyek yang Akan Dibangun di Jakarta untuk Mengatasi Persoalan Sampah, dari Cara Kerja hingga Keuntungan

Oleh: Desi Kris Jumat 17 Okt 2025, 13:40 WIB
Ilustrasi. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (Sumber: Generative AI)

AYOJAKARTA.COM - Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan proyek besar untuk mengatasi persoalan sampah.

Proyek tersebut adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Dalam proses pembangunan ini Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Danantara.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan bahwa akan membangun PLTSa setidaknya empat sampai lima unit.

Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Menhub Ignatius Jonan Dipecat Jokowi karena Tak Setuju Proyek Whoosh Kerja Sama dengan China: Sekarang Benar Nggak Mampu Bayar!

Lantas apa itu PLTSa?

Dikutip dari National Environment Agency (NEA), pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) adalah pembangkit listrik yang menggunakan sampah perkotaan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik.

Proyek ini memiliki dua tujuan utama yakni mengurangi volume sampah di TPA dan menghasilkan energi terbarukan untuk kebutuhan listrik masyarakat.

PLTSa ini termasuk kategori Waste to Energy (WtE), yaitu teknologi yang mengubah limbah menjadi sumber energi berguna, baik dalam bentuk listrik, panas, maupun bahan bakar cair/gas.

Baca Juga: Jika Utang Whoosh Tak Dibayar, Mahfud MD: Natuna Bisa Diambil China!

Cara kerja PLTSa:

Cara kerja PLTSa terbagi dalam tiga proses utama, yaitu:

1. Pengumpulan dan Pemilahan Sampah

- Sampah dikumpulkan dari berbagai sumber (rumah tangga, pasar, perkantoran).

-Sampah dipilah antara sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya.

- Sampah yang bisa dibakar (plastik, kertas, sisa makanan kering, dll) digunakan untuk bahan bakar utama.

Baca Juga: Melihat Kepribadian Berdasarkan Bulan Lahir dan Simbol Alam, Oktober Penuh Pesona dan Membawa Harmoni

2. Proses Konversi Energi

a. Insinerasi (Pembakaran Langsung)

- Sampah dibakar pada suhu sangat tinggi (850–1100°C).

- Panas hasil pembakaran ini bisa digunakan untuk memanaskan air menjadi uap.

- Uap tersebut lalu menggerakkan turbin uap yang menghasilkan listrik.

- Kemudian sisa abu (bottom ash & fly ash) diproses lagi untuk mengurangi pencemaran.

Namun dengan proses ini memiliki kelebihan dan kekurangan yaitu:

Kelebihannya, volume sampah bisa berkurang hingga 90 persen dan kekurangan memerlukan sistem penyaring emisi canggih agar tidak mencemari udara.

Baca Juga: Viral! Video 7 ABK MT SHI XING Asal Batam Terlantar Selama 3 Bulan: Mohon Pak Kami Perlindungan, Mental dan Fisik Sudah Terganggu

b. Gasifikasi

- Sampah dipanaskan dalam kondisi minim oksigen untuk menghasilkan gas sintetis (syngas).

- Syngas lalu dibakar untuk menggerakkan generator listrik.

Dengan proses ini kelebihannya adalah Lebih efisien dan emisi lebih rendah daripada insinerasi, namun kekurangannya membutuh pemilahan sampah yang lebih ketat dan teknologi mahal.

c. Pirolisis

- Hampir sama dengan gasifikasi, namun proses ini tanpa oksigen sama sekali.

- Menghasilkan bio-oil, gas, dan char (arang) yang bisa diolah lebih lanjut.

Baca Juga: Glow Up Hemat dan Stylish? Coba Cheat Code Fashion Cerdas dari ShopeeVIP

3. Pembangkit Listrik

- Uap atau gas hasil proses di atas bisa digunakan untuk memutar turbin.

- Turbin terhubung ke generator yang menghasilkan listrik.

- Dan listrik ini bisa disalurkan ke jaringan PLN atau digunakan untuk kebutuhan lokal.

Dari cara kerja di atas, setiap 1 ton sampah bisa menghasilkan sekitar 400-600 kWh listrik.

Namun hasil ini tergantung dari teknologi dan kadar air sampah.

Abu dari sisa pembakaran sampah biasanya juga dimanfaatkan untuk bahan campuran pembuatan beton atau paving block.

Baca Juga: BBM dengan Campuran Etanol 10 Persen Ditargetkan akan Dimulai Tahun Depan

Di Indonesia sendiri saat ini tengah mendorong adanya PLTSa untuk mengatasi persoalan sampah.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden No. 35 Tahun 2018 tentang percepatan pembangunan instalasi PLTSa di kota-kota besar, salah satunya Jakarta.

Kelebihan dan Manfaat PLTSa

- Mengurangi ketergantungan pada TPA

- Menekan emisi metana dari pembusukan sampah

- Menghasilkan energi listrik terbarukan

- Meningkatkan kebersihan kota

- Menyerap tenaga kerja dan investasi hijau

- Mendorong ekonomi sirkular (reuse & recycle).***

Reporter Desi Kris
Editor Desi Kris