AYOJAKARTA.COM-- AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals bekerja sama mengintegrasikan sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui software Qure.ai untuk membantu mendeteksi berbagai kelainan paru. Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem penilaian tervalidasi yang mampu membedakan nodul berisiko tinggi yang berpotensi merupakan kanker dan nodul berisiko rendah.
Kolaborasi antara AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem layanan kanker nasional melalui pemanfaatan teknologi digital.
Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi diagnostik dan deteksi dini kanker, sekaligus menegaskan peran teknologi AI sebagai bagian penting dari pendekatan penanganan kanker yang komprehensif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Bansos KAJ, KLJ, dan KPDJ Tahap Februari 2026 Resmi Cair kepada 205.170 Penerima, Ini Rinciannya
President Director Astrazeneca Indonesia, Esra Erkomay menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi kesehatan nasional. Menurutnya, AstraZeneca berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis sains yang berdampak nyata bagi pasien.
"Melalui kolaborasi dengan Siloam International Hospitals dan pemanfaatan AI, kami berharap dapat memperkuat skrining dini dan diagnosis kanker, meningkatkan kualitas pengobatan, serta mendukung agenda transformasi kesehatan nasional menuju sistem layanan kanker yang lebih efektif dan berkelanjutan,” jelasnya dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu 25 Februari 2026.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2025, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan akan melonjak hingga lebih dari 70% pada 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus.
Baca Juga: Kapan THR 2026 Pekerja Cair? Menaker: Sudah Ada Regulasinya, Kalau Wajibnya H-7 Idulfitri, tapi...
Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy menyebut peningkatan beban kanker di Indonesia menuntut penguatan pendekatan yang lebih terintegrasi, khususnya dalam memastikan diagnosis yang tepat waktu dan akurat. "Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat prosesdiagnostik, meningkatkan akurasi interpretasi klinis, serta memperkuat pengambilan keputusan berbasis data,” kata dia.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama mengatakan bahwa memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses skrining dan analisis kanker secara lebih cepat dan tepat, sekaligus memperkuat kapabilitas digital para tenaga kesehatan.
"Teknologi ini tidak bertujuan menggantikan peran dokter atau tenaga medis, melainkan menjadi pendamping yang memperkaya pengambilan keputusan klinis. Kami berkomitmen mengembangkan model layanan yang dapat direplikasi secara nasional, agar masyarakat di seluruh Indonesia dapat mengakses perawatan kanker berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri," ungkap David.
Baca Juga: BAZNAS Tetapkan Nisab Zakat Penghasilan 2026 Rp7,64 Juta per Bulan, Naik 7 Persen
Sementara itu, khusus untuk kanker payudara, data GLOBOCAN mencatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian pada tahun 2020. Sebagian kasus kanker payudara berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yaitu salah satu protein yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker secara lebih agresif.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM mengatakan bahwa melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara—termasuk status HER2 beserta subkategorinya dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. "Hal ini diharapkan mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan tepat waktu di praktik klinis,” jelas dia.
Demikian halnya untuk kanker paru, berdasarkan data GLOBOCAN 2020 penyakit ini menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia. Pada umumnya, kanker paru ditandai dengan terbentuknya nodul atau benjolan yang tumbuh secara tidak terkendali dan berpotensi berkembang menjadi ganas.
Nodul yang bersifat kanker umumnya berukuran lebih besar, dengan bentuk yang cenderung bergelombang atau tajam, serta memiliki tekstur semi-padat atau tidak padat. Kondisi ini sejatinya dapat diantisipasi melalui deteksi dini, mengingat pembentukan nodul pada paru dapat menjadi salah satu indikasi awal kanker paru.
“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” jelas Subspesialis Onkologi Toraks, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K).
Dari sisi patologi anatomi, AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals sendiri telah melakukan integrasi AI menggunakan teknologi AI dari Mindpeak Germany. Teknologi AI ini membantu dalam proses analisis digital jaringan patologi untuk mengidentifikasi status HER2 pada pasien kanker payudara sampai dengan ekspresi HER2 yang sangat kecil.
Baca Juga: Tegas! Pramono akan Cabut Izin Lapangan Padel yang Tak Punya PBG
Dengan dukungan teknologi terbaru ini, hasil patologi anatomi dapat diakses secara real-time di seluruh jaringan rumah sakit Siloam di Indonesia dan secara mobile, sehingga dapat meningkatkan akurasi, memangkas waktu interpretasi, pengiriman hasil, dan mempercepat pengambilan keputusan klinis.
Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi.Med, Sp.PA menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan kualitas pemeriksaan diagnostik kanker payudara. “Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien," tegas dia.
Karena itu, lanjut dia, penilaian (scoring) status HER2 harus akurat dan konsisten. Data dari studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan bahwa pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low sebesar 40 % dibandingkan penilaian konvensional.
"Pemanfaatan AI juga dapat meningkatkan akurasi penilaian hingga sekitar 92% serta memperbaiki konsistensi antar-pemeriksa dari 66% menjadi 82%, terutama pada subkategori HER2-low dan HER2-ultralow, sehingga dapat memperkuat ketepatan klasifikasi dan pengambilan keputusan klinis,“ jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan dokter spesialis radiologi, dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad yang berpengalaman dalam skrining dan deteksi dini kanker paru. "Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem
berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail. Deteksi ini memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan,” katanya.