AYOJAKARTA.COM - Viral di media sosial pembubaran yang dilakukan oleh aparat TNI.
Dikutip ayojakarta.com dari Instagram resmi @watcdoc_insta dan @aji.ternate pada Senin, 11 Mei 2026.
Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi ini digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate dan Society of Indonesia Environmental Journalist (SIEJ) di Benteng Oranje dibubarkan oleh sejumlah anggota TNI pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Pembubaran ini dilakukan karena menurut pihak TNI judul maupun banner dinilai provokatif.
"Dandim 1501/Ternate Kol Inf. Jani Setiadi menyebut judulnya maupun bannernya dinilai “profokatif”, dikhawatirkan mengganggu kondusivitas," dalam keterangan tersebut.
Menurut AJI Ternate dan SIEJ kegiatan nobar digelar sebagai ruang pemutaran film dan diskusi isu lingkungan serta persoalan sosial di Halmahera.
Namun sejak persiapan kegiatan dimulai, aparat disebut telah mendatangi lokasi dan mendokumentasikan aktivitas panitia.
Saat film diputar, aparat kembali meminta kegiatan dihentikan dengan alasan film dianggap sensitif dan berpotensi memicu konflik.

Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar menilai tindakan tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga.
“Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tetapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi masyarakat sipil,” tegas Yunita.
AJI Ternate menyebut kegiatan berlangsung damai dan tidak mengandung unsur provokasi.
Mereka juga menilai aparat tidak seharusnya menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh diakses publik.
Pemutaran film akhirnya dihentikan sekitar pukul 23.00 WIT setelah dialog panjang antara peserta dan aparat.

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita
Sebagai informasi Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan karya Dandhi Laksono dan Cypri Dale yang mengangkat isu sensitif mengenai proyek strategi nasional (PSN) di Papua Selatan.
Film Pesta Babi merupakan film dokumenter yang memperlihatkan konflik lahan, adat dan keterlibatan aparat.
Berdurasi total sekitar 95 menit atau 1 jam 35 menit, film Pesta Babi mengambil latar wilayah Papua Selatan yakni Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Fokus utama dari film ini menceritakan kehidupan dari masyarakat adat yakni suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang akhirnya harus kehilangan tanah dan ruang hidup akibat proyek perkebunan tebu, sawit, hingga food estate.
Proyek-proyek tersebut membuat masyarakat lokal tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri.
Selain itu, adanya dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek-proyek investasi di kawasn tersebut.***
Share this article
Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi ini digelar oleh AJI Ternate dan SIEJ di Benteng Oranje dibubarkan oleh sejumlah anggota TNI pada Sabtu, 9 Mei 2026.