AYOJAKARTA.COM - Proyek ambisius Bobibos di Timor Leste kini tengah menjadi sorotan publik.
Alih-alih mendapatkan dukungan penuh menjelang peluncurannya pada Februari 2026, perusahaan energi baru terbarukan ini justru menuai kritik tajam terkait transparansi dan logika proses produksinya.
Pada Jumat, 6 Februari 2026, tim Bobibos kembali melakukan pengujian kualitas jerami di fasilitas Bio Manufaktur mereka di Timor Leste.
Proses yang dilakukan diklaim serupa dengan operasional di Indonesia, meliputi:
- Pengangkutan: Jerami dibawa menggunakan truk ke area pabrik.
- Penggilingan: Bahan baku dicacah menggunakan mesin khusus.
- Pengeringan: Material dialirkan melalui conveyor.
- Ekstraksi & Fermentasi: Penggunaan serum khusus untuk mengubah limbah menjadi bahan bakar hidrokarbon sintetis.
Meskipun perusahaan mengeklaim perbedaan hanya terletak pada karakteristik padi dan jerami lokal, skeptisisme mulai muncul dari kalangan pelaku industri.
Salah satu kritik paling vokal datang dari Chris Longdong, pemilik startup Waus Energy.
Melalui komentar di media sosial pada 7 Februari 2026, ia menyoroti ketidakkonsistenan antara narasi perusahaan dengan realitas visual yang ditampilkan.
Chris Longdong menilai ada kejanggalan pada skala produksi. Bobibos mengeklaim masih dalam skala kecil, namun menggunakan infrastruktur besar seperti truk besar, mesin penggilingan masif, dan lokasi yang luas.
"Bagian ini semakin tidak relevan dengan klaim biaya produksi rendah dan harga jual Rp 4.000 per liter. Investasi mesin dan sewa lokasi sudah jelas menunjukkan biaya tetap yang besar," tulis Chris dalam komentarnya.
Kritikan juga mengalir dari warganet lainnya yang merasa ada kejanggalan dalam proses produksi bahan bakar ramah lingkungan di Timor Leste.
Banyak netizen merasa ada yang aneh dari proses pengangkutan jerami menggunakan truk ke dalam pabrik. Sebab jerami yang diangkut hanya sedikit.
"Agak jangal gak sih, jerami semungil itu tapi harus pake truk padahal tinggal segerobak juga penuh, kalo pengen keliatan modern pakai forklift kan bisa," kata seorang netizen.
"Ini ampe season berapa min dramanya...? Keburu bosen nonton hasil akhirnya," sahut warganet lainnya.
"Kenapa ngga dipenuhi satu truk? Sayang jadi boros trasport," ujar salah satu netizen.
Sebagai bentuk penegasan langkah konkret, Bobibos kini membuka akses lokasi pabrik mereka di Google Maps.
Langkah ini disebut sebagai upaya transparansi agar publik bisa memantau kesiapan fasilitas pendukung dan instalasi peralatan utama oleh tim engineer.
Selain pabrik, Bobibos juga mempercepat pembangunan SPBU Bobibos pertama di Timor Leste.
Stasiun ini direncanakan menjadi titik awal distribusi bensin dan solar berbahan dasar jerami tersebut.
Hingga saat ini, pihak Bobibos belum memberikan tanggal pasti mengenai grand launching di bulan Februari 2026.
Sementara tim teknis masih sibuk melakukan uji fungsi mesin dan analisa spesifikasi jerami, publik kini terbelah antara optimisme terhadap energi hijau atau keraguan atas efisiensi bisnis yang dijanjikan.
Apakah Bobibos mampu membuktikan bahwa teknologi mereka bukan sekadar "tong kosong nyaring bunyinya"? Kita tunggu perkembangannya dalam waktu dekat.***
Share this article
Bobibos Timor Leste dikritik Chris Longdong terkait kejanggalan skala produksi & biaya BBM jerami Rp4.000/liter. Meski lokasi ada di Google Maps, efisiensi proyek Februari 2026 ini diragukan pakar.