AYOJAKARTA.COM - Indonesia dan Rusia kini sedang mempererat hubungan di sektor energi yang sangat strategis.
Keduanya secara resmi sepakat untuk mengintensifkan rencana pengembangan energi nuklir nasional.
Komitmen besar ini ditegaskan kembali dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 di Kazan, Rusia.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri ESDM Yuliot yang mendampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Dari pihak Rusia, diskusi dipimpin langsung oleh First Deputy Prime Minister Denis Manturov.
Kerja sama ini bukan sekadar wacana di atas kertas. Fokus utamanya adalah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Salah satu terobosan paling mencolok yang dibahas adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Indonesia menargetkan pembangunan dua unit PLTN dengan kapasitas total mencapai 500 MW.
Selain unit besar, kedua negara juga melirik pengembangan teknologi PLTN modular kecil atau small modular reactors.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa seluruh pemanfaatan energi nuklir ini hanya untuk tujuan damai.
Langkah berani ini menjadi bagian dari strategi besar yang tertuang dalam RUPTL 2025-2034.
Dalam dokumen tersebut, Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 70 GW.
Target ambisiusnya adalah 62 persen atau 40 GW dari total tambahan itu harus berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Energi nuklir dipandang sebagai solusi handal untuk menjamin stabilitas pasokan listrik di masa depan.
Selain urusan nuklir, agenda di Kazan juga menyentuh sektor minyak dan gas secara mendalam.
Terdapat pembahasan serius mengenai tindak lanjut rencana pembelian minyak serta pengembangan berbagai ladang migas.
Proyek kilang minyak raksasa Grass Root Refinery (GRR) Tuban juga menjadi topik bahasan utama yang terus dipantau perkembangannya.
"Kerjasama di sektor energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu mintak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil," ujar Wakil Menteri ESDM, Yuliot, dilansir dari akun Instagram resmi @kesdm dalam postingan yang diunggah pada Jumat, 15 Mei 2026.
"Hal ini sejalan dengan prioritas nasiobal dalam memperkuat ketahanan energi, baik untuk bahan bakar mintak maupun listrik," sambungnya lagi.
Rusia menyatakan komitmen investasinya di sektor hulu migas, kilang, hingga ketenagalistrikan berbasis energi baru.
Hasil dari pertemuan intensif ini dirumuskan dalam dokumen Agreed Minutes yang mencakup banyak sektor.
Kerja sama ini juga akan meluas hingga ke sektor LNG, LPG, serta standardisasi industri migas dan energi.
Hilirisasi dan metalurgi mineral juga menjadi prioritas untuk memperkuat industri dalam negeri.
Melalui diplomasi energi yang kuat ini, Indonesia berupaya memastikan kedaulatan energi dan kemandirian nasional tetap terjaga di tengah tantangan global.***
Share this article
Indonesia-Rusia sepakat kembangkan energi nuklir damai lewat PLTN 500 MW & reaktor modular. Kerja sama di SKB ke-14 ini juga mencakup investasi migas, kilang Tuban, dan EBT demi ketahanan energi.