Sabtu sore di tengah hujan lebat yang mengguyur kawasan Pinangsia Jakarta Barat, penulis yang melangkah ke kampung Tionghoa Petak Sembilan guna menikmati kemeriahan Imlek dengan atraksi Barongsainya kemudian berteduh di stadion mini yang berada di kawasan Petak Sinkian.
Saat itu penulis berpikir Sabtu sore akan ada sekumpulan mantan pemain tim nasional (timnas) Indonesia yang bermain bola di sini. Penulis mengenali Stadion UMS (Union Makes Strength) karena pernah diajak oleh paman yang juga mantan pemain timnas saat menjuarai sepak bola SEA GAMES 1987, Tias Tano Taufik kemari.
Setiap Rabu dan Sabtu, paman bermain bola di sini sekalian reuni sesama mantan pemain nasional seperti Elly Idris, Peri Sandria dan kawan-kawan. Berkumpulnya para veteran sekaligus bermain bola bersama warga Tionghoa sekitaran disponsori seorang pengusaha Tionghoa. Di bagian belakang tribun penonton terdapat bekas mes pemain yang dihuni pak Arifin yang juga berdomisili di seputaran Petak Sinkian dan mantan pemain UMS.
Dari interaksi penulis dengan Pak Arifin terungkap cerita yang menggugah empati dan kagum kita dari stadion kecil yang sudah ringkih ini.
Masyarakat Jakarta mengenali sebagai lapangan Petak Sinkian atau UMS, namun penulis melihatnya sebagai sebuah stadion mini berkapasitas 500 orang karena dilengkapi tribun penonton tertutup dan terbuka dan bangunan berlantai dua yang dulunya merupakan pintu masuk dan keluar ofisial tim, ruang ganti, mes pemain dan kantor ofisial klub UMS. Namun, stadion ini hanya digunakan untuk latihan atau laga eksebisi.
Untuk pertandingan digelar di lapangan Ikada atau Stadion Menteng. Latihan berlangsung pagi dan sore hari. Saat ini kondisi bangunan tidak lagi terawat dan sangat memprihatinkan.
Sejak se-dekade lalu lahan tempat berdirinya stadion mini ini berada dalam sengketa. Di gerbang keluar masuk penonton terpampang pengumuman kalau lahan ini milik ibu Tetty Hertika yang merupakan janda alm. Wagianto.
Menurut Pak Arifin, lahan beserta stadion ini milik Yayasan UMS, tetapi tidak ada akta jual beli hingga datang klaim dari pihak ibu Tetty. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI sendiri menetapkan lapangan ini sebagai ruang terbuka hijau.
Sejarahnya, lapangan ini dahulu kebun singkong sesuai alamat stadion ini berlokasi sekarang yaitu di Jalan Ubi. Kebun singkong ini milik bapak Abdul Manaf yang ahli warisnya sekarang sudah tidak ada lagi.
Dahulu warga Tionghoa menyewa lahan kebun yang sudah tidak lagi digunakan untuk bermain bola. Awalnya kecil saja, seiring permainan bola kaki yang semakin digandrungi oleh rakyat jadilah warga Tionghoa menyewa lahan sebesar yang kita lihat sekarang dan mendirikan klub UMS pada 15 Desember 1905.
UMS bermaterikan perpaduan Tionghoa dan pribumi berjaya dalam berbagai kompetisi di Jakarta tempo dulu.
Saat Persija berdiri tahun 1928, hampir seluruh pemain berasal dari UMS yang berada di bawah naungan liga internal Persija, berlanjut hingga timnas Hindia Belanda saat berlaga di Piala Dunia 1938 di Perancis.
Pak Arifin mengingat Endang Witarsa yang biasa dipanggil dokter karena berprofesi sebagai dokter gigi sebagai pelatih legendaris. Beliau beretnis Tionghoa. Dokter adalah pelatih berkarakter dengan ketegasan dan kedisplinannya.
Saat jam latihan dimulai tidak ada lagi pemain yang duduk di tepi lapangan apalagi bercengkrama. Tidak ada istilah pemain bintang bagi Dokter, semua pemain sama. Yang berlatih keras dan mengikuti instruksi, dialah yang bermain. Lewat didikan inilah lahir Widodo C. Putro yang usahanya menjadi pemain bola menghadirkan cerita yang mengharukan saat dikisahkan pak Arifin.
Dokter seakan mampu meramal masa depan orang. Beberapa pemainnya diramal akan sukses apakah sebagai pemain, pelatih atau di bidang lainnya dan benar saja ramalannya tidak luput. Widodo C. Putro lewat gol salto spektakulernya menjadi yang terbaik di Piala Asia 1996 dan sekarang Pelatih Persita Tangerang setelah sebelumnya staf Alfred Riedl. Pemain lainnya menjadi pengusaha nasional.
Strategi yang disenangi Dokter adalah menyerang dengan skema 4-2-4 yang diadopsi saat Brazil menjuarai Piala Dunia 1958. Penekanan utama pada ketahanan fisik, untuk itu fisik pemain digenjot habis-habisan saat berlatih. Dokter sangat dedikatif terhadap sepakbola nasional.
Hal ini terlihat dari dokter yang berkemampuan Scouting. Pak Arifin mengenang sehabis latihan, Dokter meminta seluruh anak kampung sekitaran yang menonton latihan untuk bermain bola di Lapangan UMS dan beliau memantau dari pinggir lapangan. Banyak anak-anak yang kemudian bermain untuk UMS atau klub lain lewat rekomendasi Dokter.
Saat menangani timnas tahun 1966-1974, permainan menyerang ala Brazil sangat menghibur untuk ditonton dan berjaya di turnamen-turnamen yang diikuti.
UMS berlaga di Galatama dengan nama UMS 80. Saat itu menampilkan Benny Dollo yang kemudian fenomenal sebagai pelatih klub-klub Liga Indonesia dan timnas. Saat ini UMS bermain dalam kompetisi internal Persija serta pemasok pemain untuk tim ibukota ini.
UMS junior menjuarai kompetisi di berbagai level usia seperti U-12 dan Liga Elit Pro U-14 2019. Mantan pemain seperti Ricky Riskandi menjadi staf pelatih Fakhri Husaini di timnas U-16 dan U-19 lalu.
Di akhir perbincangan penulis menanyakan maksud orang-orang yang duduk di tribun. Pak Arifin menjawab itulah yang akan menentukan takdir lapangan ini. Makelar-makelar tanah menawarkan lahan bola ini ke peminat yang akan mengubah lanskap stadion ini menjadi pusat perbelanjaan atau pemukiman.
Kita berlindung dengan keputusan Pemprov DKI, tapi ke depan kita juga tidak akan pernah tahu. Semoga persatuan membuatnya terus kokoh!
Yopi Ilhamsyah
Penulis adalah Penikmat Liga Indonesia dan berdomisili di Bogor sebagai peneliti; Akun twitter @YopiIlhamsyah

Share this article
Saat Persija berdiri tahun 1928, hampir seluruh pemain berasal dari UMS yang berada di bawah naungan liga internal Persija, berlanjut hingga timnas Hindia Belanda saat berlaga di Piala Dunia 1938 di Perancis.