AYOJAKARTA.COM---PT Merpati Airlines (Persero) dinyatakan pailit oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Surabaya dan resmi dibubarkan oleh Presiden Joko Widodo pada (20/2/2023).
Maskapai Merpati Airlines merupakan Badan Usaha milik Pemerintah dan telah memiliki sejarah panjang dalam pendiriannya sebelum akhirnya diputus pailit oleh pengadilan.
Merpati Airlines didirikan pada tahun 1962 dan operasinya berpusat di Jakarta. Maskapai ini dikenal sebagai maskapai penerbangan nasional yang 96% sahamnya dimiliki oleh pemerintah.
Baca Juga: Menarik! Poco X5 5G Miliki Potensi Besar Merajai Hp Harga Rp 3 Jutaan, Yuk Intip Spesifikasinya
Walaupun basis operasi maskapai pelat merah ini berada di Jakarta, Merpati Airlines banyak mengoperasikan jadwal penerbangan domestik dan juga internasional ke daerah Timor Leste.
Merpati Airlines juga menerbangi rute perintis di Papua, Ambon, dan Kupang, termasuk penerbangan berjadwal domestik ke Sulawesi, Bali, Lombok, dan Kupang.
Pada awal pendiriannya, Merpati Airlines memiliki empat unit armada de Havilland Otter/DHC-3 dan dua unit Dakota DC-3. Pesawat tersebut merupakan pesawat hibah dari Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU).
Komodor Udara Henk Sutoyo Adiputro ditunjuk sebagai Direktur Utama Merpati Airlines (1962-1966), pada kala itu dirinya hanya membawahi 17 personel.
Pada 1963, Merpati Airlines membuka rute penerbangan baru dan tak hanya di Kalimantan, rute baru tersebut adalah Jakarta-Semarang, Jakarta-Tanjung Karang, dan Jakarta-Balikpapan.
Sebelum dinyatakan pailit, Merpati mulai melaksanakan program revitalisasi dan modernisasi pesawat secara parsial pada 2007 dengan memesan 14 pesawat Xian MA 60 dari Xian Aircraft China.
Dalam karir penerbangannya, Merpati Airlines pernah mengalami kecelakaan pada 2 Agustus 2009, yakni sebuah pesawat Twin Otter jatuh di pegunungan Papua, menewaskan seluruh penumpangnya (13 penumpang dan 3 kru).
Selang dua tahun dari peristiwa kecelakaan terakhir, pada 7 Mei 2011 sebuah pesawat Xian MA 60 (PK-MZK) juga jatuh di perairan Kaimana, menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 27 orang (21 penumpang dan 6 kru).
Seiring pertumbuhannya, Merpati kembali memperkuat armadanya dengan tambahan tiga Dornier DO-28 dan enam Pilatus Porter PC-6.
Namun, beberapa pesawat sebelumnya ada yang tidak lagi mampu dioperasikan sehingga armada efektif Merpati tersisa hanya 15 pesawat. Di sisi lain karyawan Merpati Airlines bertambah menjadi 583 orang.
Pada Juli 2011, Pemerintah serta DPR menyetujui penyuntikan modal dengan nilai Rp16 miliar ke Merpati Airlines yang dimasukan dalam APBN 2012.
Baca Juga: Manfaat Teknologi Informasi dalam Sebuah Bisnis
Tapi di bulan Oktober pada tahun yang sama, Pertamina juga menghentikan pasokan avtur ke Merpati di Surabaya dan Makassar karena terdampak utang biaya pembelian avtur senilai Rp270 miliar.
Pada Mei 2012, Rudy Setyopurnomo ditunjuk langsung oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan sebagai direktur utama untuk mendorong Merpati Airlines keluar dari keterpurukannya.
Merpati Airlines melakukan sejumlah gebrakan sejak diduduki oleh Rudy, diantara seperti penutupan rute yang merugi, pembuatan website baru, call centre 24 Jam dan city check-in di 9 kota, hingga kerjasama pengangkutan cargo dengan PT. POS Indonesia.
Pada tahun yang sama, Merpati Airlines digugat oleh 1.000 karyawannya karena kasus perselisihan PHK yang terjadi.
Baca Juga: Pesangon Belum Dibayar, Eks Pilot Merpati Datangi Komnas HAM
Memasuki 2014, kondisi Merpati Airlines belum juga pulih dari keterpurukannya. Merpati Airlines disarankan oleh Pemerintah mencari investor strategis untuk membuat anak perusahaan bersama.
Pada 1 Februari 2014, Merpati Airlines menangguhkan seluruh penerbangan dikarenakan permasalahan keuangan yang bersumber dari berbagai hutang. Kala itu, hutang Merpati Airlines mencapai Rp7,29 triliun.
Pada 2016, Merpati Airlines digugat dalam kasus permohonan pailit. Pada tahun yang sama, maskapai tersebut kembali digugat dalam kasus penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) oleh PT Prathita Titian Nusantara.
Memasuki 2018, Merpati Airline seperti mendapat angin segar, Direktur Utama Merpati Airline Asep Ekanugraha menyatakan pesawat perusahaan siap terbang lagi pada 2019. PT Intra Asia Corpora disebut jadi salah satu investor yang akan menyuntikkan dana segar sebanyak Rp5,4 triliun.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Merpati tak juga membaik hingga kemudian resmi dinyatakan pailit berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang ditetapkan dalam sidang 2 Juni 2022.
Penyelesaian pembubaran, termasuk likuidasi diselesaikan maksimal lima tahun sejak perusahaan dinyatakan pailit dan semua kekayaan hasil likuidasi akan masuk ke kas negara, dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube Berita Satu (23/2/2023).***

Share this article
kondisi Merpati tak juga membaik hingga kemudian resmi dinyatakan pailit berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada PN Surabaya