AYOJAKARTA.COM - Kalau orang tua zaman dulu melakukan kesalahan, kita bisa bikin alasan kalau waktu itu belum ada informasi, psikolog, psikiater, belum banyak yang memberi tahu kalau memukul, membentak, meneriaki anak itu tidak boleh.
Tapi sekarang, ketika informasi tentang parenting sudah begitu melimpah, tapi tetap saja ada di antara kita yang melakukan hal yang sama pada anak, keponakan, atau anak kecil lainnya.
Sebenarnya di dalam hatimu, kamu tau kalau itu tidak benar, dan itu yang membuat rasa bersalah. Tapi mengapa itu tetap kamu lakukan?
Baca Juga: Tahu Buah Plum yang Menyehatkan? Ternyata Buah Ini Dapat Membongkar Kepribadian Seseorang Juga Lho!
Dilansir dari akun TikTok @jiemiardian, hal tersebut kita lakukan lantaran emosi.
Pengambilan keputusan manusia itu sebagian besarnya bukan pengambilan keputusan rasional, tapi keputusan emosional.
Perhatikan saja apa yang kamu beli di marketplace akhir-akhir ini.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2024, Kemenhub Siapkan Sejumlah Sarana Transportasi Untuk Pemudik
Apakah itu rasional? Atau emosional?
Bahkan dalam soal memilih pasangan pun kita cenderung membuat keputusan emosional yang kemudian kita coba rasionalkan.
Banyak dari keputusan kita memang keputusan emosional, termasuk keputusan untuk marah, membentak, berteriak yang secara rasional kamu tahu bahwa itu salah.
Lantas, bagaimana kalau keputusan emosional begitu mempengaruhi kita sampai kita tidak bisa mengambil keputusan secara rasional?
Baca Juga: Tes IQ: Temukan 3 Perbedaan Gambar Pemain Rugby dalam 17 Detik!
Untuk menemukan jawabannya, kita perlu menelusuri dari mana emosi yang begitu intensnya ini mengendalikan kita?
Kita perlu menelusuri kejadian-kejadian apa saja yang dulu kita alami yang membuat emosi tersebut terakumulasi, bertambah?
Misalnya saat merasa tidak didengarkan sama anak sendiri, lalu kita marah, maka kita perlu mencari tahu kapan saja di masa lalu kita merasa tidak didengarkan.
Kejadian itu masih terekam di kepala kita dan sadarilah bahwa tidak didengarkan orang, misalnya tidak didengarkan oleh ibu, bapak, temen itu terakumulasi dan membuat kita meledak ketika anak tidak mendengarkanmu.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Kesepian, Kenali Gejalanya dan Cari Solusinya Sekarang!
Dari kesadaran itulah, kemudian kita beranjak ke hal lain entah itu pergi ke sesi bersama psikolog atau psikiater untuk menjalani trauma healing sehingga emosi dari kejadian-kejadian masa lalu itu tadi tidak lagi mengganggu.
***

Share this article
Kalau orang tua zaman dulu melakukan kesalahan, kita bisa bikin alasan kalau waktu itu belum ada informasi, psikolog, psikiater,