AYOJAKARTA.COM - Penyebaran virus Monkeypox atau Mpox yang menjangkit di banyak negara, masih membawa kekhawatiran di tengah masyarakat.
Bukan saja karena ancaman dan potensi kematian yang ditimbulkannya, tetapi juga gejala infeksi virus Mpox cenderung sangat mudah terlihat oleh indera mata.
Munculnya ruam dan benjolan akibat penyakit virus Mpox yang mudah terlihat pada permukaan kulit, juga berisiko mendatangkan stigma negatif bagi penderitanya.
Terlebih menurut sebagian kalangan, virus Mpox juga tidak jarang disebut-sebut sebagai salah satu dampak dari perilaku seksual yang menyimpang.
Baca Juga: Belum Tahu Cara Pembelian E-Meterai? Jangan Panik! Ini Dia Langkah-langkah Pembeliannya
Sehubungan dengan perspektif masyarakat bahwa Mpox merupakan dampak penyakit kelainan seksual, Dr. dr. Hanny Nilasari selaku Ketua Perdoski memberi tanggapan.
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin atau Perdoski, anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru.
Berdasarkan pada hasil temuan kasus di yang tercatat di Indonesia sepanjang tahun 2022-2024, sebanyak sekitar 84 persen Mpox terjadi pada kelompok khusus.
“Kelompok khusus yaitu ditemukan pada kelompok yang melakukan kontak seksual lelaki dengan lelaki atau LSL,” ungkap Hanny, dikutip dari kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, Minggu (8/9/2023).
Selain karena adanya perilaku menyimpang LSL, temuan kasus pada penderita Mpox juga disebabkan oleh hubungan seksual normal atau antara laki-laki dan perempuan.
Adapun jumlah persentase temuan kasus yang dialami oleh kelompok jenis kedua, menurut catatan berjumlah sekitar 6,5 persen.
Namun demikian, Dr. dr. Hanny Nilasari menegaskan bahwa penyebaran virus Mpox bukan semata-mata terjadi akibat hubungan seksual.
Penularan virus Mpox, selain disebabkan karena kontak fisik yang sangat berdekatan juga dapat terjadi karena diakibatkan adanya faktor lain.
Penggunaan benda milik penderita positif Mpox, perpindahan cairan tubuh seperti keringat atau liur, darah serta konsumsi hewan pencetus virus Mpox juga sangat mungkin terjadi.
Selain penyebab-penyebab tersebut, virus Mpox juga dapat disebabkan karena minimnya kesadaran diri untuk menjaga kebersihan dan kesehatan.
Sebelum diketahui berpotensi menular kepada sesama manusia dan menjadi ancaman dunia, virus Mpox pertama kali terjangkit pada hewan primata seperti Kera.
Ditetapkannya bahaya virus Mpox oleh WHO, menurut Dr. dr. Hanny Nilasari perlu disikapi masyarakat dengan kesadaran dan kebijaksanaan.
Selain terus menggali lebih banyak informasi yang faktual, masyarakat juga perlu mengetahui mekanisme penyebaran dan cara kerja virus Mpox.
Salah satu cara paling efektif untuk mencegah terinfeksi virus Mpox, selain menerapkan pola hidup bersih juga dengan menjaga imunitas tubuh. ***

Share this article
Dr. dr. Hanny Nilasari menegaskan bahwa penyebaran virus Mpox bukan semata-mata terjadi akibat berhubungan.